Mari menyeduh sedu dalam secangkir malam
dan melarutkannya bersama masa
Barangkali dia menjelma tawa atau luka
Entah
Aku lupa, bahwa sedu datang dari renjana yang memudar
tak jua panas kendati kau nyalakan baranya
Sebab pemantik hasrat telah lari entah ke mana
.
Yogyakarta, 17 April 2016
Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025
Comments
Post a Comment