Petang kemarin seorang lelaki tegak di muka
Bibirnya terus melafalkan tentang sajak yang ia tata sedemikian rupa
Dua bola mata di balik kaca mengubur rahasia
bagaimana patuhnya kata-kata dipinta berbaris oleh jemari
sedang ia berkilah dirinya pemalas
.
Kemudian dia bersandiwara
Di atas panggung puisi yang dibangun di masa silam
Mata-mata siaga
menangkap getaran dari pita suara lelaki di muka
dengan lensa dalam rasa
.
Aku terdiam di bawah naungan cakrawala yang meredup
Enggan berontak kala jiwa lelaki itu memasuki kepala
menggusur agenda tertulis untuk akhir pekan
Perlahan mendobrak dada
Retak
retak
Dadaku seketika retak dihantam badai puisinya
.
.
Yogyakarta, 26 April 2016
in frame : M. Aan Mansyur

Comments
Post a Comment