Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2016

Malam yang Lupa Kusimpan

Pernah kita melawan malam dari balik dinding menukar kata demi kata hingga malam menyerah lalu kita rayakan kemenangan dengan bulan sabit yang kau curi dari cakrawala kemudian kau sampirkan di bibirku Lalu kita mulai candu melawan malam terus menerus entah bagaimana laku jemarimu malam selalu menyerah dan bulan sabit kembali jadi milikku Kau tau, selalu kutangkap binar bintang dalam matamu di sela-sela ujung pertempuran namun kau enggan mengaku katamu, "mungkin kau salah lihat" Dan kini aku mencari malam itu kutunggu kau sembari melawan malam kau tak kunjung datang sesalkan aku yang lupa menyimpan malam kita Yogyakarta, 14 Juni 2016

Rumah Baru

Aku mulai menabung rupiah demi rupiah sebab aku harus migrasi dari rumah yang mulai sesak Bukan banyak tuntutan di tiap sudut atau ego di langit-langitnya namun telah tiba dia yang lebih layak aku bukan tamak tak ingin berbagi atap hey tuan nona ini rumah, bukan penginapan Rumah ini takkan merindu telah mati cerita di dalamnya tak jua meminta pulang sebab jejak-jejakku telah dihapus penghuni baru Yogyakarta, 10 Juni 2016

Per(empu)an

Dalam matanya tersimpan rahasia atau jawaban atas segala gelisah yang menuntunnya pada pasti . Teka-teki masih bersarang di kepalanya tersembunyi oleh kilau mahkota hingga adam kerap bertanya "Mengapa?" . Bulan sabit bersinar di bibirnya menggoda juga menyiksa jiwa-jiwa yang terjerat tanya . Malu-malu dadanya berdebar entah sedalam apa renjana tertanam hingga tabah tumbuh dengan lebatnya . Lalu tangannya terbuka menampakkan angan yang tergenggam bukam hasrat untuk melepas, hanya mengubah jadi nyata . Kaki-kaki yang jenjang dalam pandangan mulai melangkah habiskan sisa jalan sebab pantang baginya untuk mundur . Peran perempuan bukan perkara sulit atau mudah namun upaya menjaga lengkungan rusuk dari mereka yang memaksa lurus . Yogyakarta, 8 Juni 2016

Mei yang Tenggelam

Habis sudah tiga puluh satu ditelan masa menggantungkan cerita di sudut kenang ada jeda yang belum usai ada juga awal dan akhir dalam satu penanggalan Mei kemarin bercerita tentang pahit-manis yang tak sempat dicecap lidah atau pedas di sudut bibir namun menggoda hati untuk meminta lebih Mei juga bercerita sepotong kalimat yang kau biarkan tetap sepotong enggan kau beri tanda baca atau kau lanjutkan dengan barisan kata Mei telah memilih mundur bukan habis alasan untuk melangkah namun retak sudah batas waktu menenggelamkan Mei kelabu Yogyakarta, 5 Juni 2016