Skip to main content

Posts

Showing posts from June, 2015

Terima Kasih

Tiba - tiba aku ingin kembali ke masa lampau. Masa di mana aku masih bertumbuh menuju kedewasaan. Masa di mana aku mengenakan putih biru dan putih abu - abu. Masa di mana tempat belajarku sekolah, bukan universitas. Masa di mana tanggung jawabku hanya belajar dan bermain. Belajar dan mengerjakan tugas tanpa perlu memikirkan perkara absensi. Masa di mana satu meja di kelas diperuntukkan untuk 2 siswa. Masa di mana aku sering tidur di kelas. Masa di mana bertambahnya umur merupakan simbol kedewasaan, bukan simbol pertambahan tugas. Masa di mana aku bebas bermimpi dan menyusun harapan - harapan untuk masa depan. Masa di mana jika ulang tahun yang didoakan cepat memiliki kekasih, bukan cepat naik pelaminan. Masa di mana jika lapar tinggal ke meja makan, bukan sibuk mencari ke warung makan. Masa di mana beribadah bersama keluarga adalah suatu hal yang biasa, bukan suatu yang istemewa seperti saat ini. Masa di mana adu pendapat dengan anggota keluarga merupakan hal yang menyebalkan, dan menj...

Mengukir Janji

Ku pandang wajah mama yang semakin menua. Gurat kelelahan nampak di wajahnya, namun beliau enggan mengungkap dalam kata. Hanya petuah - petuahnya kusimpan dalam memori. Tersirat keinginan beliau agar studiku lancar dan selesai tepat waktu. Aku terdiam, menyadari suatu hal. Aku adalah insan yang terlalu mengikuti arus ombak kehidupan. Begitu asik menyelami hingga ke lautan paling dalam. Menikmati indahnya biota laut hingga lupa caranya untuk berenang dan kembali ke daratan. Ya aku lupa daratan. Aku terlalu asik menikmati hidup hingga mengesampingkan nilai - nilai perjuangan. Melupakan tanggung jawab yang kupikul sejak aku memutuskan tinggal di kota ini. Permintaan mama seperti pelampung yang membantuku berenang ke daratan. Mengejutkan aku yang masih terlena menikmati semua keindahan di depan mata. Namun pelampung itu menyelamatkanku untuk segera kembali, menyadarkan bahwa jika aku sudah sampai dasar lautan maka pelampung itu tak tampak olehku dan mungkin bagiku untuk tak kembali ke d...

Dihajar Rindu

Aku hancur, lebur, luluh dihajar rindu. Rindu yang memukul tepat di ulu hati, merobek jiwa hingga menjadi remahan - remahan rasa, mengiris jalinan harap yang tersusun lama. Dan kini semua berantakan. Rindu itu jelas - jelas menang. Berhasil memerangi setiap sudut pikiranku dengan kenangan itu. Memutar lantunan cerita yang tak ingin lagi kudengar. Menyepak terjang mimpi di depan mata dengan masa lalu yang kelam. Aku dikalahkan rindu. Rindu yang terapal dalam doa namun tak mampu diungkap dalam kata. Rindu yang tetap ada meski ku simpan rapat - rapat dalam sukma. Rindu yang nyata meski rasa itu tak lagi pada tempatnya. Dan malam ini lagi - lagi berperang dengan rindu. aku.rindu.kamu -angelinaamm-

Selamat Jalan

Aku tidak tahu apa itu kematian karena aku belum pernah mengalaminya. Yang aku tahu semua mahluk di dunia ini akan kembali kepadaNya, Sang Pemberi Hidup. Kita jua tak pernah mngerti batas waktu yang Dia berikan untuk berjuang di dunia ini. Kita hanya tau harus berjuang sebaik - baiknya, mewartakan surgaNya di dunia dan kembali kepadaNya dalam kehidupan kekal abadi. Selamat jalan malaikat kecil tante Monika Lestari Dhone, doaku menyertaimu selalu O:)

Rindu Surga

Ke mana rindu ini akan berpulang? Ketika semua pintu tertutup Ke mana jalan ini kan berujung? Sukmaku sudah lelah berkelana Dahaga ini tak tuntas jua Meneguk nikmatnya nafsu dunia Berikanku pelitaMu Tuk menata kepingan asa yang terserak Merajut batin yang terkoyak Menjadi rangkaian keyakinan kokoh Yang tak gentar disapu prahara maksiat Didepan altarMu kubersujud Melipat tangan takzim akan Kau Merapal namaMu dalam diam Menghirup dalam - dalam firmanMu Dan kutemukan surgaMu di dunia -angelinaamm-

Jangan

Jangan bermalam di penginapan Jika kau bisa pulang Jangan berhenti di halte Jika kau sudah tau tujuan Dan jangan singgah di aku Jika tujuanmu adalah dia

Terusir

Kau taburkan onak duri di atas pijakan Kemudian kau hembuskan prahara depan wajah Belum puas juga, kau penuhi rungu dengan lolongan Hingga nara - nara perlahan beranjak

Di Ambang Kejenuhan

Ketika hati lelah dengan semua. Menuntut realita yang tidak sesuai inginku. Akal sehat tak mampu berjalan jauh, hanya berputar di satu tempat. Hingga tiba di titik di mana aku tak ingin beranjak. Hanya diam dan mengamati segala sesuatu yang terjadi di depan mata. Kutekan rasa bosan dalam - dalam. Mengeluhpun tiada guna, sebab aku tak tahu apa mauku.

Hujan

Titik – titik air berlompatan Berlabuh di atas permadani kelabu Muram durja rupa langit Tiada seberkas sinar janji Jangan jadikan aku landasan Karena kamu bukan hujan Yang membiaskan lukisan Sang Agung -angelinaamm-