Skip to main content

Terima Kasih

Tiba - tiba aku ingin kembali ke masa lampau. Masa di mana aku masih bertumbuh menuju kedewasaan. Masa di mana aku mengenakan putih biru dan putih abu - abu. Masa di mana tempat belajarku sekolah, bukan universitas. Masa di mana tanggung jawabku hanya belajar dan bermain. Belajar dan mengerjakan tugas tanpa perlu memikirkan perkara absensi. Masa di mana satu meja di kelas diperuntukkan untuk 2 siswa. Masa di mana aku sering tidur di kelas. Masa di mana bertambahnya umur merupakan simbol kedewasaan, bukan simbol pertambahan tugas. Masa di mana aku bebas bermimpi dan menyusun harapan - harapan untuk masa depan. Masa di mana jika ulang tahun yang didoakan cepat memiliki kekasih, bukan cepat naik pelaminan. Masa di mana jika lapar tinggal ke meja makan, bukan sibuk mencari ke warung makan. Masa di mana beribadah bersama keluarga adalah suatu hal yang biasa, bukan suatu yang istemewa seperti saat ini. Masa di mana adu pendapat dengan anggota keluarga merupakan hal yang menyebalkan, dan menjadi hal yang kurindukan saat ini. Masa di mana anggota keluargaku lengkap mendiami rumah.
Masa itu sekarang sudah terlewatkan. Dibawa sapuan angin sang waktu. Meninggalkan goresan - goresan kisah yang indah untuk dikenang. Mengukir senyum bila mengingatnya.Satu per satu kawan dan keluarga meninggalkan kota untuk merantau. Membangun pondasi kesuksesan untuk masa depan. Kelak suatu hari akan kembali dengan tropi kemenangan atas keberhasilan melewati satu tahap hidup. Pergi bersama janji akan kehidupan yang lebih baik dan pulang membawa senyum kebahagiaan bagi yang menunggu di rumah.
Terima kasih untuk cerita indah di masa lampau, untuk menjadi bagian dari cerita hidupku. Kalian sudah melakukan tugas kalian dengan sangat baik. Sekarang saatnya aku melanjutkan jalinan kisah untuk masa depan. Doa kalian akan membantuku menghasilkan kisah yang berakhir bahagia. Senyum dan tawa kalian akan menjadi pengingat di kala aku mulai lalai dan lupa diri. Kalian memiliki tempat istemewa di hati ini. Kelak kita akan berjumpa dengan kesuksesan di masing - masing genggaman. Terima kasih :)

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025