Skip to main content

Mengukir Janji

Ku pandang wajah mama yang semakin menua. Gurat kelelahan nampak di wajahnya, namun beliau enggan mengungkap dalam kata. Hanya petuah - petuahnya kusimpan dalam memori. Tersirat keinginan beliau agar studiku lancar dan selesai tepat waktu.
Aku terdiam, menyadari suatu hal. Aku adalah insan yang terlalu mengikuti arus ombak kehidupan. Begitu asik menyelami hingga ke lautan paling dalam. Menikmati indahnya biota laut hingga lupa caranya untuk berenang dan kembali ke daratan. Ya aku lupa daratan.
Aku terlalu asik menikmati hidup hingga mengesampingkan nilai - nilai perjuangan. Melupakan tanggung jawab yang kupikul sejak aku memutuskan tinggal di kota ini.
Permintaan mama seperti pelampung yang membantuku berenang ke daratan. Mengejutkan aku yang masih terlena menikmati semua keindahan di depan mata. Namun pelampung itu menyelamatkanku untuk segera kembali, menyadarkan bahwa jika aku sudah sampai dasar lautan maka pelampung itu tak tampak olehku dan mungkin bagiku untuk tak kembali ke daratan.
Dalam kayuhan tangan dan kakiku kembali ke daratan aku mengukir janji. Belajar dengan sungguh - sungguh, mempertahankan indeks prestasiku yang walau tak seberapatapi kupegang erat jangan sampai jatuh. Mencapai gelar sarjana 2 tahun dari sekarang, memakai jubah kebanggaan, lambang keberhasilan yang mampu merekahkan setiap senyum orang tua dari si pemakai jubah, tanda satu tahap kehidupan terlewati dan siap masuk babak selanjutnya.
Dalam Nama Tuhan Yesus, Amin O:)


Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025