Aku bimbang, haruskah terima kasih kubungkus indah setelah kau datang dan menetap selama dua pekan terakhir.
Atau haruskah kudoakan semoga kau lekas enyah dari beranda waktuku.
Sebab mereka bilang hadirmu musibah yang melahirkan rindu dari kelamnya rahim malam.
Sedang aku masih terbungkam ragu, hasrat membisu enggan bersuara.
Aku butuh kau di sisiku, adamu memadamkan kobar terlarang yang tak seharusnya menyala.
Namun erat rangkulmu kadang terlalu sesak menekan diafragma, hingga sesaat oksigen lenyap dari paru-paru.
.
.
Yogyakarta, 3 April 2016
Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025
Comments
Post a Comment