Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2016

Pesan Rahasia

Kau menjelma pesan rahasia di balik layar telepon genggam berbaris rapat sembunyikan makna di baliknya titik dan koma seolah sepakat bersembunyi dari pesan yang tersirat tanpa jeda . Pesan pertama tak terungkap kau datang kembali dengan pesan kedua kali ini bukan aksara yang berlaga melainkan goresan hitam begitu pekat dan nyata seperti jelaga di siang bolong Lagi-lagi aku terbungkam dalam jeruji teka-teki di balik layar . Pesan terakhir bertandang "Akan kujawab nanti, kala jarak menyerah" Lihat, orang yang dilanda rindu gemar sekali sembunyi dalam kerumitan . . Yogyakarta, 27 April 2016 *noh dhe udah gue bikin yaaa :p*

Laki-Laki Berjiwa Puisi

Petang kemarin seorang lelaki tegak di muka Bibirnya terus melafalkan tentang sajak yang ia tata sedemikian rupa Dua bola mata di balik kaca mengubur rahasia bagaimana patuhnya kata-kata dipinta berbaris oleh jemari sedang ia berkilah dirinya pemalas . Kemudian dia bersandiwara Di atas panggung puisi yang dibangun di masa silam Mata-mata siaga menangkap getaran dari pita suara lelaki di muka dengan lensa dalam rasa . Aku terdiam di bawah naungan cakrawala yang meredup Enggan berontak kala jiwa lelaki itu memasuki kepala menggusur agenda tertulis untuk akhir pekan Perlahan mendobrak dada Retak retak Dadaku seketika retak dihantam badai puisinya . . Yogyakarta, 26 April 2016 in frame : M. Aan Mansyur

Perihal Pergi

Pergi tak selalu identik dengan menghilang. Terkadang semua tetap pada tempatnya, hanya saja dipasang beberapa sekat di mana kenangan itu sewaktu-waktu bertandang. Sehingga kenangan tak bisa seenaknya kembali dengan wajah tanpa dosa. . Jog, 2016

Meminjam Rupa

Hari ini aku meminjam rupa seseorang untuk menjadikan rindu samar kendati dalam dada ia setia berdebar merajam rungu sisakan nanar . Sebab melipat jarak sedikit demi sedikit terlalu lancang untuk kuajukan jadi biar saja kusimpan rapat-rapat dalam dada hingga nanti ia lenyap entah ke mana atau aku yang melupa di mana tepatnya rindu kuletak . Kepadamu waktu, sudikah kau menjawab segala teka-teki rasa? . Yogyakarta, 24 April 2016

Tentang Ibu Kartini

Telah kusimpan di sudut kepala Hikayat kembang Jepara Yang menganyam mimpi hawa Lewat goresan kepada Noni Belanda . Usia masih belia Belum genap kepala dua Namun semangat empat lima Demi emansipasi wanita . Bara dalam dada enggan padam Kendati diberi raut muram Atau tanggapan kelam Hasratnya meretas segala suram . Kini kami tiada bungkam Sebab kau robek sekat temaram Yang mengunci belenggu kelam Demi akhir lebih tentram . Yogyakarta, 24 April 2016

Still Listening in 2016

Menyeduh Sedu

Mari menyeduh sedu dalam secangkir malam dan melarutkannya bersama masa Barangkali dia menjelma tawa atau luka Entah Aku lupa, bahwa sedu datang dari renjana yang memudar tak jua panas kendati kau nyalakan baranya Sebab pemantik hasrat telah lari entah ke mana . Yogyakarta, 17 April 2016

Kepada Cici

Yogyakarta, 15 April 2016 . Namanya cici, pemilik rambut legam bergelombang. Cici senang merangkai isi kepalanya menjadi larik-larik puisi, kemudian disebarkan di beranda facebook. Matanya yang sendu menyimpan tanda tanya tentang kemisteriusannya. Rupa kita mirip :D Hanya saja mata saya tidak sendu seperti Cici, dan hidung saya lebih pemalu dibanding Cici. Itu sekilas tentang Cici, salam dari Kota Istimewa :p

Salah Paham

Tanya itu masih bergelayut dalam tempurung sang puan di mana titik temu? adakah ia merajuk hingga enggan bertandang . Kemudian puan berhenti jalan di muka memilih buntu bertopeng sekat kelabu . Tanya bergelayut enggan terhempas kendati jawab siap mendekap sebab bukan pada jawab sang tanya menetap . . Yogyakarta, 13 April 2016

Rumahmu Rubuh

Rumahmu rubuh Menjelma puing di sudut-sudut Setelah dihajar badai tadi Hingga merebah pada waktu . Rumahmu runtuh Tak bisa lagi kau berteduh Atau sembunyi dari gaduh . Rumahmu rapuh Dalam serpihan kenang yang menyerang kala kau datang . Rumahmu kini jatuh Pada masa separuh bulan Ia menyerah Di tanggal merah . Yogyakarta, 12 April 2016

Batas

Tibalah berpijak pada titik semu Aku masih meraba Cemas-cemas harap terjamah Sekat yang dijauhi si sabar Di mana ia sembunyi? Dalam lorong-lorong asa tiada wujudnya Di tanah lapang pun ia enggan membentang Lalu di mana dia berdiam dalam gejolak si pemilik angkara? Ataukah ia telah melebur berpadu dalam rapalan munajad? Ah ... takdir selalu mengajak berteka-teki . . Yogyakarta, 10 April 2016

Puan di Persimpangan Jenuh

Prahara berlari dalam kepala Tumbangkan tunas-tunas gairah Bosan! Ingin rubuhkan tembok bisu Namun waktu mengunci bibir rapat-rapat Ah ... kubangun saja benteng angkuh di muka Biar nara-nara menerka Masih adakah remah imaji yang tinggal Atau semua telah tanggal? . . Yogyakarta, 4 April 2016

Jarak

Aku bimbang, haruskah terima kasih kubungkus indah setelah kau datang dan menetap selama dua pekan terakhir. Atau haruskah kudoakan semoga kau lekas enyah dari beranda waktuku. Sebab mereka bilang hadirmu musibah yang melahirkan rindu dari kelamnya rahim malam. Sedang aku masih terbungkam ragu, hasrat membisu enggan bersuara. Aku butuh kau di sisiku,  adamu memadamkan kobar terlarang yang tak seharusnya menyala. Namun erat rangkulmu kadang terlalu sesak menekan diafragma, hingga sesaat oksigen lenyap dari paru-paru. . . Yogyakarta, 3 April 2016