Skip to main content

Posts

Showing posts from 2017

Menyimpan Sunyi

Detak nadi malam merambati dinding-dinding kamar membawa sunyi yang seharian tersimpan di kolong tempat tidur kemudian bising minta diri sebab, habis masanya memenuhi hari Aku ingin sunyi pindah ke dalam kepala supaya ribut-ribut redam dan membuka tabir antara mimpi dengan lelap Tangerang, 15 Desember 2017

Nanti, Masih Menanti

Satu nyala lagi biar tiada ganjil nanti yang ditunggu samar-samar melambai Masih ada yang belum beranjak entah di sudut mana sembunyi sibuk bertanya sudah atau belum, padahal, butuh lebih dari kata-kata untuk menjawab Tanggal dalam kalender menanggal tinggal tanggal untuk dihitung Memutar jarum jam ke arah kiri tidak akan mengembalikan semua kecuali ingatan-ingatan yang dipaksa mati demikian juga asa yang masih berbisik-bisik Tangerang, 14 Desember 2017

Sewindu Satu Masehi

Pikiranmu merupakan tempat yang jauh dari bising, penuh dengan benar-salah segala mungkin. Boleh jadi nanti aku bermuara di sana sebagai perkara, atau memilih menjadi sesuatu yang asing.  "Harusnya, laki-laki tadi lebih cerdik. Gara-gara dia, nyawa temannya melayang," lagi-lagi kamu mengeluh perkara tokoh utama yang ceroboh dalam menjalankan misi. "Itu karena mereka kurang koordinasi, komunikasinya kurang jelas," aku mencoba melihat dari perspektif  berbeda. "Wah, kamu bicara soal kita ya?" Aku menjatuhkan pandang tepat di matamu, mencoba menelusuri lika-liku apa yang sedang kau perkarakan. Buram, tak dapat diterka. Entah, mungkin kau sembunyikan rapat-rapat. Aku tidak mengerti. Sewindu satu masehi hampir meredup, tenggelam dalam ingin tahu yang tak kunjung lenyap. Aku menyimpan satu tanya terlalu dini. Seiring waktu berotasi, tanya yang kugenggam beranak-pinak.  Hingga tahun ke sembilan, aku mendapat tempat. Lebih tepatnya, nyaris mendapat tempat. ...

Saku Kanan

Sembilan puluh sembilan malam sejak purnama terakhir retak di sudut bibirmu masih kusimpan sisa-sisa perbincangan di saku kanan "putar balik", rambu yang selalu ketemui di setiap persimpangan kubuang sedikit waktu membuka kembali saku kanan masih di situ, definisi jalan terus Sudah malam ke seratus tiba-tiba kau ajak bertukar kalimat, meluruskan yang terlalu berliku lagi-lagi kubuka saku kanan, kubaca ratusan kali hingga ramai isi kepala membungkam aksara-aksara yang baru saja kubariskan "Enyahlah," kata terpilih setelah berkutat dengan menit-menit seleksi Tangerang, 16 November 2017 Kau bilang, "kau harus bisa seperti aku, yang sudah biarlah sudah"

Perubahan

Waktu terus menggenggam perubahan yang dilepas satu per satu di ujung kompleksitas hingga manusia bertanya terus setia, atau inkonsistensi saja? Yang kemarin melahirkan bising kemudian menjelma asing sibuk mengejar mangsa masing-masing yang dulu enggan mendekat berbalik merapat pulang dari tersesat yang setiap saat hinggap esok hari sudah lenyap seakan lelah dipenjara pengap yang awalnya tidak erat kini terlalu lekat meminta segera diikat Semesta masih menyimpan kejutan untuk bertanya perihal bertahan mungkin nanti giliranmu? Tangerang, 20 Oktober 2017

Pusing

Iya pusing, lagi keranjingan denger lagu ndx yang galaw2 tapi gabisa nulis galaw because tida galaw trus galaw napa skill w jadi tumpul :( #curhat #deletesoon #kembalilahskillku

Diam

Hening menjembatani kata-kata enggan bertemu maju penuh ranjau mundur, terlalu ingkar hati Pada diam aku masih meraba sedang rasa terus menunggu aba aku harus bagaimana? kamu hanya sembunyi suara Apa ada cela luput dari netra? atau genggam lupa dibalas? hingga bisu kuterima bukan satu paragraf yang jelas Aku ingin sembunyi menutup rungu dari sana sini menolak segala tahu kendati aku terlalu rindu Tangerang, 4 Oktober 2017

Baru Saja

Habis sudah lima puluh dua minggu dalam genggam pahit manis terlepas meluruhkan harapan-harapan yang tanggal juga cerita yang dulu masih rahasia Bulan sembilan menyapa melahirkan kecamuk dalam kepala sibuk berakap-cakap sendiri bagaimana jika ini? atau, jika terus ke situ akankah semesta setuju? Baru saja seorang anak manusia menyambut dua puluh dua menyimpan rapat-rapat segala doa dalam bisik untuk apa repot-repot berisik toh, masih teka-teki jadi buruk atau baik Selamat merayakan kehilangan atas waktu yang enggan datang kembali dan untuk semua yang berujung sesal semoga, tidak lagi melangkah secara asal Tangerang, 27 September 2017 *maapkeun aing telat sehari tapi kutetap love you kok*

Waktu

Sepanjang 360 derajat maju, penuh teka teki mundur, tak punya kuasa Seringkali berbisik "nanti" padahal cuma bertandang sekali kadang ingin tahu memanggil kembali bagaimana jika dulu tak ambil ini Masih lekat dalam benak doa-doa yang dirapal sejenak kini, dengan realita sungguh berjarak dan sesal, enggan beranjak Pada rotasi berikutnya sanggupkah untuk terus menunda? Yogyakarta, 1 September 2017

Separuh

Ada  denyut yang enggan diam menerka berapa panjang jalan ini ada gelisah terus bicara mengintip besok yang mungkin kelabu Sepasang anak manusia membangun rumah dari keyakinan-keyakinan kendati spasi terlampau jauh dan sekat maya, terlalu nyata kita enggan retak selama semesta berpihak Jika kamu memang separuh maka benar di mana aku berlabuh tak apa terus jatuh padamu, perlahan utuh Yogyakarta, 23 Agustus 2017

Kata Kita

Mari membuka kata sebelum lapang ruang dalam gelas . bila hanya mata bicara aku kamu jadi bias . karena tak mudah menerka "kapan" yang kunjung tegas

Sebuah Pesan

Kepada perempuan yang baru saja menyentuh angka kembar kedua, selamat atas bertambahnya tanya yang bertandang ke dalam diri. Selamat atas kebimbangan jalan yang (mungkin) makin bercabang dalam kepala dan depan mata. Selamat atas segala abu-abu yang berhasil kau enyahkan sebelum tanggal enam. Selamat atas jawaban yang akhirnya tiba setelah melalui perdebatan panjang. Selamat atas suka dan duka yang harus kau genggam, meski rasanya enggan. Selamat pada akhirnya semesta menempatkan insan-insan terbaik untuk terus mendampingi. Selamat karena kini kaki siap melangkah menuju cerita melalui jalan yang telah ditentukanNya. Terima kasih atas kebodohan yang berkali-kali mengisi halaman dua puluh satu. Terima kasih atas cerita baru yang diizinkan ditulis di usia kemarin. Terima kasih atas lepasnya zona nyaman demi sesuatu yang berharga. Terima kasih atas gejolak yang menyala begitu hebatnya hingga entah dengan apa agar ia mau padam. Terima kasih atas segala dosa dan doa yang melebur dalam wakt...

Angka Kembar

Dua puluh satu terbenam dalam dosa yang enggan lepas dari kepala juga perihal janji yang belum menyentuh tunai April ke dua puluh dua melahirkan binar ragu di bola mata perkara pulang atau terus hilang atau abadi dalam undangan Dua puluh tujuh keempat masih dalam ruang yang sama jika yang kelima belum berkenan setidaknya tetap terus bertukar doa Yogyakarta, 4 Mei 2017 -Hbd yha! males manis" samamu, bosan! Wkwkwk-

Hari Kedua di Bulan Lima

Tanggal dua bulan lima kembali bertandang mendiami ingatan masal tentang bangku-bangku yang belum terjamah tentang buku-buku yang berpindah tangan mengikuti generasi juga tentang alas kaki yang masih tertata di etalase Kemudian datang inovasi transparansi privasi demi nama instansi seolah tujuan ketiga NKRI sudah basi Hitam putih melekat bukan perkara sebab bibit didik harus ditabur berbuah di mana nanti biar waktu yang beri tahu Yogyakarta, 2 Mei 2017 -untuk calon pendidik favoritku, selamat berjuang :)-

Maria

Maria datang di tengah  masehi maupun kabisat berdiam di purnama kelima terlafal pasrah dalam tiap butir rosario mutlak bersenyawa dengan Novena dan Litani Maria ada di tengah bukan menjadi alfa dan omega melainkan mengantar doa-doa rahasia kemudian suatu hari pada  1995 Maria memutuskan tinggal di antara Angelina dan Meo Yogyakarta, 2 Mei 2017 Lokasi : Goa Maria Sendangsono

Jarak

Jarak kita bukan perkara realisasi peta melainkan hening di muka pintu meruntuhkan aku yang masih mencari di mana khilaf kuletak kemarin sore mungkin sembunyi di balik kata-kata atau di sela-sela napasmu yang belum sempat kau tukar denganku Jarak begitu ajaib sanggup membangun ruang dalam ruang Yogyakarta, 28 April 2017

Mata Terjaga

Subuh merapat tepat di sela jari-jari kaki pejamku masih bersyarat hingga terjaga lagi dan lagi Hampir pukul empat kantuk tak jua menjerat isi kepala masih lari-lari bagaimana kalau nanti tak begini? Dalam barisan waktu telah kuletakkan sepakat menunggu restu pemantik segala hasrat Jika boleh kuingini jangan ada api atau kerikil sebelum menggenggam hasil Yogyakarta, 10 April 2017 -edisi galauin kuesioner yg dari tanggal 10 maret ga balik2 :')-

Lenyap

Aku memungut kembali kepingan waktu di belakang menyimpan dalam diam hitam yang melekat barangkali esok pudar menjelma abu atau bahkan jadi putih kendati jauh dari mungkin . Masih terselip dalam renggang jemari debu-debu sisa laku tanpa restu memburamkan kornea dari salah- benar selama dunia berkata "ya", maka mengapa "tidak"? . Jadi harus di mana kubasuh nelangsa yang menetap? ingin menyapa, terlalu hina angkara meminjam rupa pun tiada guna sebab bagiMu, tiada rahasia menjembatani . Maka izinkan aku lenyap ke sekian kalinya berhenti di nomor sepuluh mengusap wajahMu dalam kamar pengakuan kembali melafalkan "Aku Percaya" . Yogyakarta, 6 April 2017

Lebur

Segenap tawa tanggal terbenam dalam lautan rahasia detik-detik masih janggal sebab tanya selalu menyela . Harusnya jangan kutulis lagi perkara lama tanpa tanda titik selalu jeda yang datang pergi untuk ditelusuri pun terlalu pelik . Entah sudah berapa kali kututup lembar-lembar tanpa jawaban dan selalu kubuka kembali berharap semua tak lagi sama . Sepertinya semesta telah menetapkan batas-batas antara dua anak manusia hitam yang terlanjur biar saja melebur hilang, dibawa waktu yang enggan permisi . Yogyakarta, 30 Maret 2017

Tak Bisa Melangkah

Detik-detik merambati tanggal yang perlahan tertinggal masih kusimpan tanya perihal rahasia dalam matamu ada jeda yang kaubungkam, juga debar yang enggan kumengerti mungkin sebaiknya aku berhenti dari ingin tahu yang menggebu juga cerita tanpa kata sekian sebab sebelah kaki tak kan bisa melangkah, kan? . Yogyakarta, 30 Maret 2017

Entah

Ternyata membongkar pasang aksara tak lagi mudah Apalagi ditambah perkara mengapa dan karena Rasanya ingin bertanya bagaimana menjadi apa Namun berhenti tiba-tiba pada tetapi . Jeda yang ada jangan sampai berkelana terlalu jauh Biar dia berhenti di sini, ataupun tepat detik ini Kelak, semua akan bertemu pada hari kelima Semoga segera reda kecamuk dalam pikir . Yogyakarta, 13 Februari 2017

Pada Akhirnya

Pada akhirnya, debar terlarang antara dua anak manusia harus dipadamkan Kendati malam lebih indah disebrangi secara beriringan Dan pagi terlalu rugi jika didekap sendiri-sendiri . Namun hati kini berpijak pada suatu yang asing Bagaimana dinamakan rumah, jika pagarnya tak sanggup lagi terbuka? Atau mungkinkah disebut pulang, jika di dalamnya hanya kau jumpai berang? . Jadi, tutup saja paragraf yang memuat kau dan aku Alinea ini terlalu sesak, sedang waktu terus mendesak Paru-paru tak sanggup lagi menampung cerita yang sia-sia . Mungkin, doa yang tersusun menjadi nama cukup keras menampar kita Bahwa, kau dan aku terlarang bagi titik temu Sejatinya, kita tak seistimewa kota ini . Yogyakarta, 5 Februari 2017

Januari Tanpa Cerita

Satu per satu kristal bening meninggalkan langit januari Menyapu dosa-dosa yang enggan tanggal Juga tanda titik yang tidak semestinya ada Januari sepertinya tak bergairah merangkai kata Romansa-romansa enggan berpijak pada waktu Tersembunyi dalam buah-buah pikir berkulit duri Jadi kuhabiskan saja doa-doa yang tertinggal Merekah jadi apa dan bagaimana Biar nanti semesta berkisah Yogyakarta, 1 Februari 2017

Perihal Berbincang DenganMu

Bagaimana kabarMu yang menduduki semesta? Maaf jika aku masih jarang mengajakmu berbincang Terkadang lelap membawaku lari begitu saja hingga lupa berterima kasih atas dua puluh empat jam yang Kau titipkan . Juga ketika kubiarkan dingin membelai di awal hari hingga tak sempat ucap permisi menghabiskan waktu hingga berganti esok . Saat dihadapkan pada sepiring rezeki lagi-lagi aku tak ingat apa itu syukur Lambungku terkadang enggan menunggu sedikit lebih lama untuk dipenuhi . Bukan salah lelap, dingin, bahkan lambungku yang meronta sejatinya tak berdosa Namun hati enggan mengaku bahwa dialah kunci dari segala laku termasuk perihal berbincang denganMu . Mungkin aku terlalu angkuh untuk memanusiakan diri di hadapMu atau aku tak cukup nyali membuka rahasia paling kelam yang jelas-jelas Kau tahu? . Tunggu, biar kutamatkan doa yang belum terucap . Yogyakarta, 24 Januari 2017

Kau Bisa Menjadi Apa Saja

Kau bisa menjadi apa saja kopi yang menahan kantuk dekapan selimut di kala hujan atau hujan yang mencumbu dataran kering Kau bisa menjadi apa saja lagu yang membawa kenangan Novena sebelum lelap atau puisi yang ingin kutulis Kau bisa menjadi apa saja janji yang berkali-kali ingkar pesan singkat di awal hari atau waktu yang tepat untuk bersua kembali Kau bisa menjadi apa saja selama menerbitkan senyumku usai resah semalam memadamkan rindu yang lancang berkobar juga candu akan hadirmu lagi Kau bisa menjadi apa saja Yogyakarta, 15 Januari 2016

Lelaki dan Puisi

Kita pernah terjebak di sajak yang sama menapaki benih-benih yang tumbuh di pucuk Desember Hingga Januari menetas masih sajakmu yang melekat dalam kepala Pikirku, kamu puisi terakhir setelah tiga semester terbenam hasratku nyaris redup Sampai waktu mengantarkanmu di depan pintu dengan segenggam aksara seolah semesta berkata “ya” menjadikanmu judul serta titimangsa Nyatanya semua masih gurauan Lagi-lagi kau dibawa lari Jika aku menemukanmu di rumahNya sekali lagi ingin kuceritakan padaNya bahwa kamu, sudah cukup menggenapi Yogyakarta, 13 Januari 2017 Untuk seorang laki-laki yang berhasil menjatuhkanku ke dalam puisinya berkali-kali

Harga Diri atau Harga Mati

Bunda ... aku ingin bicara Sudah separuh jalan Menapaki tujuh puluh satu Namun sejahtera masih di balik angan Bercanda mesra bersama janji-janji palsu . Hati-hati mengucap kata Nduk! Jangan bersuara atau berteriak Kita berjalan di era yang berbeda Di mana langkah terbelenggu kaki Hukum berlatar keadilan, katanya ... . Lambung menangis minta diisi Sedang harga angkat kepala enggan kompromi Ditambah upah terus-terusan revisi Dalam kepala bertanya cukup beli apa nanti? . Bertanya tentang harga, Nduk? Kita hanya punya harga diri yang berpatok harga mati! Kemiskinan mengajarkan kita tentang kerja keras demi harga diri Kelaparan berasal dari kejujuran itu harga mati . Mata terjaga, nurani entah Sebab yang di atas terlalu pongah Biarkan yang di bawah meringis pedih Ah ... fluktuasi harga memang sadis . Sudahlah si Nduk! Jangan menatap ke atas matamu tak dapat bermimpi Usah berkata apa-apa, nanti terkurung terali besi Mereka lupa bahwa langit masihlah ada lagi lang...

Eskalator Menuju Ikhlas

ragaku di sini, pikiran entah ke mana dalam keramaian hati dilanda sepi mencoba mencari belahan hati yang menghilang ditelan hari lalu di tumpukan obralan pakaian cuci gudang dan, kucoba bertanya pada spg mall malah ditawari hatinya untuk aku isi - pikiran sewrawut, hati resah dan risau bingung apa yang mau kubeli tiada barang menarik, kecuali senyumanmu yang semanis diskonan tinggi dan, parasmu barang mewah yang tak dapat kubeli dengan rayuan yang biasa saja namun butuh lembaran kesetiaan agar mendapatkan hatimu kembali - ini ada di lantai berapa ruang apa dan di mana mataku gelap dibutakan oleh namamu saja - sementara waktu tertawa sendiri mencela hati yang dibungkam sepi sebab kemarin bersenandung move on nyatanya masih bengong bermuka pilon - ke sana ke mari mencari dekapmu di belakang senyum pedih manekin dalam tempat sampah restoran mahal bahkan, di sudut kloset yang tak lagi bau tak juga kudapatkan sebaliknya, aku yang kecopetan lenyap perasaan ...