Kita pernah terjebak di sajak yang sama
menapaki benih-benih
yang tumbuh di pucuk Desember
Hingga Januari
menetas
masih sajakmu yang melekat dalam kepala
Pikirku, kamu puisi terakhir
setelah tiga semester terbenam
hasratku nyaris redup
Sampai waktu mengantarkanmu di depan pintu
dengan segenggam aksara
seolah semesta berkata “ya”
menjadikanmu judul serta titimangsa
Nyatanya semua masih gurauan
Lagi-lagi kau dibawa lari
Jika aku menemukanmu di rumahNya sekali lagi
ingin kuceritakan padaNya
bahwa kamu, sudah cukup menggenapi
Yogyakarta, 13 Januari 2017
Untuk seorang laki-laki yang berhasil menjatuhkanku ke dalam puisinya berkali-kali
Comments
Post a Comment