Skip to main content

Eskalator Menuju Ikhlas

ragaku di sini, pikiran entah ke mana
dalam keramaian hati dilanda sepi
mencoba mencari belahan hati
yang menghilang ditelan hari lalu
di tumpukan obralan pakaian cuci gudang
dan, kucoba bertanya pada spg mall
malah ditawari hatinya untuk aku isi
-
pikiran sewrawut, hati resah dan risau
bingung apa yang mau kubeli
tiada barang menarik, kecuali
senyumanmu yang semanis diskonan tinggi
dan, parasmu barang mewah
yang tak dapat kubeli
dengan rayuan yang biasa saja
namun butuh lembaran kesetiaan
agar mendapatkan hatimu kembali
-
ini ada di lantai berapa
ruang apa dan di mana
mataku gelap
dibutakan oleh namamu saja
-
sementara waktu tertawa sendiri
mencela hati yang dibungkam sepi
sebab kemarin bersenandung move on
nyatanya masih bengong bermuka pilon
-
ke sana ke mari mencari dekapmu
di belakang senyum pedih manekin
dalam tempat sampah restoran mahal
bahkan, di sudut kloset yang tak lagi bau
tak juga kudapatkan
sebaliknya, aku yang kecopetan
lenyap perasaan
kaurampas di masa lampau
-
jadi, kutunggangi saja eskalator
berpisah dari tempat aku berpijak
bersama bayangmu yang enggan enyah
namun enggan pulang jua
berharap di lantai berikutnya
tak ada kamu; atau kita
-
Jogjakarta, 5 Januari 2017

-kolaborasi dengan Oktavianus Deddy Y S

Comments

Popular posts from this blog

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025

Maaf di Awal Bulan

Baru saja kita menutup Mei dengan tertawa Namun tanpa sengaja kubuka Juni dengan kecewa Hingga menutup gema suara-suara bahagiamu Yang harusnya rutin aku terima setiap waktu Jadi bagaimana kalau bunga ini kamu terima dulu sebagai pesan permintaan maafku?  Kemudian kita mulai lagi langkah baru untuk menutup dengan bahagia bulan-bulan selanjutnya Tangerang, Juni 2023