Skip to main content

Harga Diri atau Harga Mati

Bunda ... aku ingin bicara
Sudah separuh jalan
Menapaki tujuh puluh satu
Namun sejahtera masih di balik angan
Bercanda mesra bersama janji-janji palsu
.
Hati-hati mengucap kata Nduk!
Jangan bersuara atau berteriak
Kita berjalan di era yang berbeda
Di mana langkah terbelenggu kaki Hukum berlatar keadilan, katanya ...
.
Lambung menangis minta diisi
Sedang harga angkat kepala enggan kompromi
Ditambah upah terus-terusan revisi
Dalam kepala bertanya cukup beli apa nanti?
.
Bertanya tentang harga, Nduk?
Kita hanya punya harga diri yang berpatok harga mati!
Kemiskinan mengajarkan kita tentang kerja keras demi harga diri
Kelaparan berasal dari kejujuran itu harga mati
.
Mata terjaga, nurani entah
Sebab yang di atas terlalu pongah
Biarkan yang di bawah meringis pedih
Ah ... fluktuasi harga memang sadis
.
Sudahlah si Nduk!
Jangan menatap ke atas matamu tak dapat bermimpi
Usah berkata apa-apa, nanti terkurung terali besi
Mereka lupa bahwa langit masihlah ada lagi langit
 .
Babel-Jogja, 12 Januari 2017
Kolaborasi puisi bersama Bunda Rhy

Comments

Popular posts from this blog

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025

Maaf di Awal Bulan

Baru saja kita menutup Mei dengan tertawa Namun tanpa sengaja kubuka Juni dengan kecewa Hingga menutup gema suara-suara bahagiamu Yang harusnya rutin aku terima setiap waktu Jadi bagaimana kalau bunga ini kamu terima dulu sebagai pesan permintaan maafku?  Kemudian kita mulai lagi langkah baru untuk menutup dengan bahagia bulan-bulan selanjutnya Tangerang, Juni 2023