Skip to main content

Sebuah Pesan

Kepada perempuan yang baru saja menyentuh angka kembar kedua, selamat atas bertambahnya tanya yang bertandang ke dalam diri. Selamat atas kebimbangan jalan yang (mungkin) makin bercabang dalam kepala dan depan mata. Selamat atas segala abu-abu yang berhasil kau enyahkan sebelum tanggal enam. Selamat atas jawaban yang akhirnya tiba setelah melalui perdebatan panjang. Selamat atas suka dan duka yang harus kau genggam, meski rasanya enggan. Selamat pada akhirnya semesta menempatkan insan-insan terbaik untuk terus mendampingi. Selamat karena kini kaki siap melangkah menuju cerita melalui jalan yang telah ditentukanNya.

Terima kasih atas kebodohan yang berkali-kali mengisi halaman dua puluh satu. Terima kasih atas cerita baru yang diizinkan ditulis di usia kemarin. Terima kasih atas lepasnya zona nyaman demi sesuatu yang berharga. Terima kasih atas gejolak yang menyala begitu hebatnya hingga entah dengan apa agar ia mau padam. Terima kasih atas segala dosa dan doa yang melebur dalam waktu yang baru saja terbenam.


Mungkin angka kembar tidak serta merta mengubah "engkau" menjadi manusia baru. Namun, tahap yang nanti harus kau jumpai (semoga) akan membenturmu perlahan dan membentukmu menjadi sosok yang independen, kuat, dicintai, dan dihormati. Terutama oleh dirimu sendiri. Dan semoga, tidak ada lagi kesalahan yang harus terulang di halaman dua puluh dua ini. Masa yang baru saja lewat telah meninggalkan pelajaran yang harus kau baca berkali-kali demi terhindar jatuh ke lubang yang sama. Semoga semesta mengamini, dengan caranya yang masih dirahasiakan.

Yogyakarta, 27 Mei 2017
pesan ini dikirim untuk perempuan yang menulis pesan ini dari awal hingga akhir :)

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025