Skip to main content

Sewindu Satu Masehi

Pikiranmu merupakan tempat yang jauh dari bising, penuh dengan benar-salah segala mungkin. Boleh jadi nanti aku bermuara di sana sebagai perkara, atau memilih menjadi sesuatu yang asing. 

"Harusnya, laki-laki tadi lebih cerdik. Gara-gara dia, nyawa temannya melayang," lagi-lagi kamu mengeluh perkara tokoh utama yang ceroboh dalam menjalankan misi.
"Itu karena mereka kurang koordinasi, komunikasinya kurang jelas," aku mencoba melihat dari perspektif  berbeda.
"Wah, kamu bicara soal kita ya?"
Aku menjatuhkan pandang tepat di matamu, mencoba menelusuri lika-liku apa yang sedang kau perkarakan. Buram, tak dapat diterka. Entah, mungkin kau sembunyikan rapat-rapat. Aku tidak mengerti.Sewindu satu masehi hampir meredup, tenggelam dalam ingin tahu yang tak kunjung lenyap. Aku menyimpan satu tanya terlalu dini. Seiring waktu berotasi, tanya yang kugenggam beranak-pinak. 

Hingga tahun ke sembilan, aku mendapat tempat. Lebih tepatnya, nyaris mendapat tempat. Jika kita sama-sama keluar dari tembok yang pura-pura menjadikan kita asing.

Bermula dari tertangkapnya aku oleh  radarmu yang waktu itu sibuk mengantri tiket pameran. Kemudian erbincangan-perbincangan abstrak mengenai tamu undangan sampai rahasia tetangga sebelah rumah yang sudah jadi konsumsi umum. Hingga berakhir dengan habisnya sepiring nasi goreng di gang dekat rumahku. Jika aku abai pada keberadaanmu, mungkin kita kembali menjadi asing seperti tanggal-tanggal kalender yang memilih tanggal lebih awal.

"Kok gak dijawab?"
"Malas ah, kamu main aman terus"

Tangerang, 21 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025