Pikiranmu merupakan tempat yang jauh dari bising, penuh dengan benar-salah segala mungkin. Boleh jadi nanti aku bermuara di sana sebagai perkara, atau memilih menjadi sesuatu yang asing.
"Harusnya, laki-laki tadi lebih cerdik. Gara-gara dia, nyawa temannya melayang," lagi-lagi kamu mengeluh perkara tokoh utama yang ceroboh dalam menjalankan misi.
"Itu karena mereka kurang koordinasi, komunikasinya kurang jelas," aku mencoba melihat dari perspektif berbeda.
"Wah, kamu bicara soal kita ya?"
Aku menjatuhkan pandang tepat di matamu, mencoba menelusuri lika-liku apa yang sedang kau perkarakan. Buram, tak dapat diterka. Entah, mungkin kau sembunyikan rapat-rapat. Aku tidak mengerti.Sewindu satu masehi hampir meredup, tenggelam dalam ingin tahu yang tak kunjung lenyap. Aku menyimpan satu tanya terlalu dini. Seiring waktu berotasi, tanya yang kugenggam beranak-pinak.
Hingga tahun ke sembilan, aku mendapat tempat. Lebih tepatnya, nyaris mendapat tempat. Jika kita sama-sama keluar dari tembok yang pura-pura menjadikan kita asing.
Bermula dari tertangkapnya aku oleh radarmu yang waktu itu sibuk mengantri tiket pameran. Kemudian erbincangan-perbincangan abstrak mengenai tamu undangan sampai rahasia tetangga sebelah rumah yang sudah jadi konsumsi umum. Hingga berakhir dengan habisnya sepiring nasi goreng di gang dekat rumahku. Jika aku abai pada keberadaanmu, mungkin kita kembali menjadi asing seperti tanggal-tanggal kalender yang memilih tanggal lebih awal.
"Kok gak dijawab?"
"Malas ah, kamu main aman terus"
Tangerang, 21 November 2017
"Harusnya, laki-laki tadi lebih cerdik. Gara-gara dia, nyawa temannya melayang," lagi-lagi kamu mengeluh perkara tokoh utama yang ceroboh dalam menjalankan misi.
"Itu karena mereka kurang koordinasi, komunikasinya kurang jelas," aku mencoba melihat dari perspektif berbeda.
"Wah, kamu bicara soal kita ya?"
Aku menjatuhkan pandang tepat di matamu, mencoba menelusuri lika-liku apa yang sedang kau perkarakan. Buram, tak dapat diterka. Entah, mungkin kau sembunyikan rapat-rapat. Aku tidak mengerti.Sewindu satu masehi hampir meredup, tenggelam dalam ingin tahu yang tak kunjung lenyap. Aku menyimpan satu tanya terlalu dini. Seiring waktu berotasi, tanya yang kugenggam beranak-pinak.
Hingga tahun ke sembilan, aku mendapat tempat. Lebih tepatnya, nyaris mendapat tempat. Jika kita sama-sama keluar dari tembok yang pura-pura menjadikan kita asing.
Bermula dari tertangkapnya aku oleh radarmu yang waktu itu sibuk mengantri tiket pameran. Kemudian erbincangan-perbincangan abstrak mengenai tamu undangan sampai rahasia tetangga sebelah rumah yang sudah jadi konsumsi umum. Hingga berakhir dengan habisnya sepiring nasi goreng di gang dekat rumahku. Jika aku abai pada keberadaanmu, mungkin kita kembali menjadi asing seperti tanggal-tanggal kalender yang memilih tanggal lebih awal.
"Kok gak dijawab?"
"Malas ah, kamu main aman terus"
Tangerang, 21 November 2017
Comments
Post a Comment