Pada akhirnya, debar terlarang antara dua anak manusia harus dipadamkan
Kendati malam lebih indah disebrangi secara beriringan
Dan pagi terlalu rugi jika didekap sendiri-sendiri
.
Namun hati kini berpijak pada suatu yang
asing
Bagaimana dinamakan rumah, jika pagarnya tak sanggup lagi terbuka?
Atau mungkinkah disebut pulang, jika di dalamnya hanya kau jumpai berang?
.
Jadi, tutup saja paragraf yang memuat kau dan aku
Alinea ini terlalu sesak, sedang waktu terus mendesak
Paru-paru tak sanggup lagi menampung cerita yang sia-sia
.
Mungkin, doa yang tersusun menjadi nama cukup keras menampar kita
Bahwa, kau dan aku terlarang bagi titik temu
Sejatinya, kita tak seistimewa kota ini
.
Yogyakarta, 5 Februari 2017
Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025
Comments
Post a Comment