Skip to main content

Posts

Showing posts from 2016

Selamat Tinggal

Kabisat nyaris tenggelam di lautan kembang api dan riuhnya petasan. Masa berputar, sekejap semua yang pernah direkam semesta kini mendapat tempat di sudut hati yang berkenan. Hitam putih 366 hari beranjak dibawa waktu yang terus berdetak. Khilaf yang melekat pada lampau akan tetap tinggal,  mengakar dalam benak. Kendati tangan menjamah dengan doa, dia tetap ada. Jadi, genggam saja semua. Leburkan bersama hasrat yang terlalu naif bahwa gelap tak akan datang. Tangerang, 31 Desember 2016

#RandomPost-6 Could It be My Resolutions?

2016 almost over and I never suppose time flies so fast. I thought my 2016 was not wonderful, but not-very-bad too. So, I have some resolution (or plans?) in 2017 1. I will get my degree. My essay was started and still in progress. I don't know how it will be, but i know it will passed well =). Comming soon : Angelina Maria Meo, S.E (maybe more than S.E?) welcome REAL world 2. Get a Job Hmm, i still looking for which city i will stay. But i thought i will go to city who has higher UMR than my place now. It sounds realistic, or materialistic? Actually I don't care. In future, there are many bills i must paid. 3. Saving Money, Investment Not only about pay bills in point 2, but also because what i planned in future need money. I know money isn't everything, but everything needs money. 4. Learning New Things I get excited easily and love to learn new things, so what thing i wanna try? 5. Pray Diligently I might be not a religious girl (or woman? =p) Sometime it ...

Desember Keempat

Sudah empat Desember tiga masehi disusul satu kabisat terbenam dalam rotasi kala habis bermuara di kota ini Desember pertama kelabu berbalut pilu juga sebaris kekata sendu Desember kedua berkubang tanya perihal memilih persimpangan juga jawab di ujung jalan Desember ketiga penuh candu menghamba penuh letupan dalam dada perlahan lompati batas angan Desember keempat memungut kembali kepingan-kepingan yang tak usai dari endapan di balik tanya Cerita Desember kelima masih kusimpan mungkin nanti akan kutulis atau tetap kugenggam sendiri di suatu tempat Yogyakarta, 21 Desember 2016

Dan Ternyata

November mengucapkan pisah pada aku yang terlunta-lunta dihajar tanya juga waktu yang diam-diam menggores pilu bingkisan dari November masih kudekap belum terbuka mencari tahu saja enggan Mungkin aku terlalu hanyut pada euforia kembang api dalam dada hingga lupa bahwa kepalaku ternyata butuh jawaban Yogyakarta, 1 Desember 2016

November yang Berlalu

Hampir dua jam November melangkah pergi seperti yang sudah-sudah kembali kelabu menetap warna-warni lenyap dibawa pendahulu Lagi dan lagi menutup kabisat di perbatasan hitam-putih dan masih bersama beberapa tanya tentang jeda yang enggan usai Jadi apa cukup adil jika di ujung waktu kupinta satu warna? jangan hitam atau putih apalagi abu-abu Bagaimana dengan cokelat? seperti yang bersembunyi di balik kelopak matamu? Yogyakarta, 1 Desember 2016

Kamu dan Bulan Oktober

Kamu dan bulan Oktober menyatu dalam asa yang tersimpan rapat seperti binar lampu kota yang enggan padam Kamu batas kelabu antara tanya dan nyata jeda dalam kalimat yang belum selesai ditaburi kembang-kembang tidur sisa semalam Kamu bukan huruf kapital atau tanda titik hanya kumpulan kata bias makna yang terlalu dini untuk diterjemahkan Bulan Oktober menghidupkan denyut rindu yang mati suri sesederhana bisikmu di ujung malam atau hangat yang ditukar menjelang pagi Bulan Oktober berkicau banyak tentang gemuruh di balik dada juga bintang yang tinggal di matamu dan semua hal tabu lainnya Kamu dan bulan Oktober biar kukubur dalam senyap tolong jangan menghantui apalagi reinkarnasi Yogyakarta, 9 November 2016

Rasanya

Rasanya susah membuka mata-mata aksara yang terpejam dibuai manisnya teka-teki Rasanya berat memanggil kata-kata enggan bicara terbungkam waktu nan panjang Jadi begini saja biar kubariskan makna-makna berserak; sembunyi di balik sudut imaji menjadi sebentuk nyata dan tanya atau aku pura-pura buta pada arti yang kelabu perlahan musnah melebur dalam puing-puing harap Yogyakarta, 4 November 2016

#RandomPost-4

  Thanks universe :)

#RandomPost-3

OMG, i really in love with this song!

Debat Hujan dan Kopi

Aku hujan, dan kau kopi kita berdebat dalam dada tentang tanya yang mencandu . Aku hujan, dan kau kopi kita beradu dalam kepala siapa lancang bersabda rindu? . Aku hujan, dan kau kopi sepakat lenyap dalam kosakata sebab dalam matanya tersisa sendu . Yogyakarta, 07102016

#RandomPost-2

I got flu. It started yesterday when i knew something wrong with my body and i thought there was sorethroat. I got strepsils, wore a lot of salonpas and cuddling with my bodat. And when i woke up i get the flu -_- Shit it's so uncomfortable. I can't think clearly because sometimes i got headache too. It annoy me much while I still search title of my essay before i meet my lecture on Monday. I have some ideas, but they don't make me sure, or i'm afraid. I'm afraid to say my ideas, i'm afraid to argue with my lecture and i'm afraid because i'm not confidence enough to say what i want to say. 2 months ago i clicked on "skripsi" button of Computer Based Information System. Gotcha! welcome essay which the most horrible things for end year university student. I still can't believe i must start it now and need to end up it soon. Everything might happen, but i'm sure i will past it. GANBATTE KUDASAI =)

#RandomPost-1

Hello, how are you? How about your job? Are you enjoy it? My playlist stop at track “Bunga Citra Lestari – 3 Salahmu” randomly. And i remember you now. I remember how you talked about your favorite game, your annoying friend, your bad habbits, your parents, your brother, etc.   I remember how you rid your motorcycle, and we laughed at everything we saw. Sometimes you laugh so hard and i couldn't see your eyes =p. I remember exactly how you treated me well while i acted like the most annoying girl around you. It's weird but true, why i still feel heartbeat if i know something about you?  I often imagine can the time throw us back in 2014 and continue everything we had done. You are different and limited edition, so how can i forget? Like Kay Perry said “you’re like an Indian summer in the middle of winter”

Berhenti

Dua masehi merotasi masa melawan celah katamu putih itu nyata ya dulu sebelum nyamanmu meraja Aku menghela napas lelah penat atau tak ada rasa? Segalanya lenyap gairah memudar lalu berpaling Bukan kau tak baik begitu juga aku hanya tempat kita tak lagi sama Yogyakarta, 4 Oktober 2016 . . . . . btw idup gue dramatis amat yak, ganti sabun cuci muka aja dibikin puisi :')

Lelap yang Dirampas

Dini hari tamat subuh mendekat cemas merapat Netra membuka hati menganga pada waktu yang bertahta Pikir masih mengutuk perihal bunga tidur busuk buat kabur si kantuk Lagi-lagi lelap dirampas oleh si pemilik paras buat badan jadi panas Yogyakarta, 1 Oktober 2016

This lyric success hit me well

Kuliah Malam

Petang bersiap pulang meninggalkan legam di batas cakrawala pertanda hari tinggal satu per empat . Namun tembok gedung masih tegar menangkap tanya-jawab dari balik kepala disusul lembar-lembar tantangan menanti dijamah dengan logika  . Netra nyaris meredup terlena dalam rayuan jenuh hingga segelas kopi mengajak terjaga . Yogyakarta, 20 September 2016

Kumpulan Sajak #2

-1- Terang datang mengetuk tirai mencari mata-mata yang terjaga sedang sembunyi di sudut ruang -2- Lekas kita bertaruh gadaikan rasa dalam gelap barangkali mendapat mahkota emas -3- Sebuah pesan baru tiba pengirimnya tanpa nama isinya teka-teki silang -4- Jangan buat gaduh nanti rungu mereka terjaga dari rahasia yang disimpan rapat     -5- Anak kecil bertanya mengapa orang dewasa menjawab karena orang tua geleng-geleng kepala -6- Sudah setengah hari lambung mulai berbisik perihal persediaan yang menipis -7- Senyummu biar kusimpan telah lapang kotak ingatan namanya telah kuhapus tadi pagi -8- Mari kita hapus jarak ini beberapa desa bukan masalah daripada rindu mendendam -9- Tak lagi-lagi aku tenggelam dalam matamu yang menjebak demi satu mangsa nyaris lepas -10- Bulan tinggal separuh wacana belum lunas lekas bayar sebelum batas waktu Imogiri, 15 Agustus 2016            

Kumpulan Sajak #1

-1- Coba buka lipatan malam barangkali maaf untukmu tersembunyi dalam gelap -2- Kopiku tak lagi nikmat sebab kini rupamu menjelma ampas di dasar cangkir -3- Matamu abjad ke dua puluh tujuh ilusi dan tak terbaca -4- Nyaliku terbawa asap dibakar amarahmu petang tadi -5- Debu di wajahmu bercerita tentang baku hantam anak manusia jadi jawara di jalan raya     -6- Sepanjang Jogja-Imogiri motor bebek menyelinap diam-diam tertangkap basah di Kantor Kecamatan  -7- Sudah penghujung bulan mari susun taktik biar uang enggan lari-lari -8- Dingin ragu bertandang tak sanggup lagi mengetuk jendela sebab selimut didekap tetangga -9- Lagi-lagi kopi memudarkan jejak-jejak waktu yang berpindah sekian mili -10- Dinding ruang sibuk berbisik perihal doa dan dosa kita yang melebur semalam     Imogiri, 1 Agustus 2016 

Telepon

Baru saja kau menyapa dari pulau seberang aku menjawab lewat sinyal yang datang-pergi sesekali menyelipkan keluh kesah namun, selalu ada tawa di penghujung kalimat Lagi-lagi sinyal bersembunyi ah ...suaramu kian tenggelam jadi, kapan kita berbincang kembali? lekas telepon aku Imogiri, 27 Agustus 2016

Sebuah Surat

Kepada pria bermata susu cokelat di Kota Istimewa inilah aku, gadis pemalu yang kemarin senja mengajakmu bermain petak umpet kau mencari aku yang masih ragu sembunyi di balik kata-kata membariskan sisa-sisa denyut rindu entah sampai kapan kita terus berteka-teki sampai kau enggan mencari atau sampai aku lelah bersembunyi? Kepada pia bermata susu cokelat dalam balutan jaket merah-biru tak akan lagi kulempar tanya perihal beranjak-menetap atau taruhan menyimpan wajah dalam benak aku dan kau telah paham gelar pemenang bukan kita penyandangnya Kepada pria bermata susu cokelat yang menamatkan surat ini jika nanti senyummu terbit sebelum fajar barangkali itu salah satu hasil perundinganku denganNya jauh-jauh hari sebelum surat ini kutulis Imogiri, 25 Agustus 2016 Tertanda : (masih) perempuanmu

Susu Cokelat

Di meja ada susu cokelat Mengintip genit pada yang menggeliat Dalam rangkulan waktu nan erat Susu cokelat pengusir lapar Lenyap hangat sebab kian terlantar Mimpi semalam masih kau kejar-kejar Yogyakarta, 24   Juli 2016

Lagi-lagi Desember

Ini masih terlalu pagi untuk menerima tamu. Tapi lelaki itu sudah berdiri di ambang pintu. Jujur saja, aku malas menanggapinya. Namun tak ada alasan yang cukup masuk akal untuk menyangkal kehadirannya. Hmm, sebenarnya ada satu alasan. Tapi ini sungguh tidak masuk akal. Bulan kelahirannya, bulan Desember. "Ngapain ke sini pagi-pagi?" tanyaku dingin. "Mau jemput kamu" "Ke mana? Ini baru jam 8 pagi" "Udah ikut aja. Sana mandi, kamu kan kalau mandi lama"   Satu setengah jam kemudian dia membawaku ke supermarket di kota ini. Hey, sejak kapan ada orang kencan di supermarket? "Tanggal segini kamu biasa belanja bulanan kan? Kebetulan aku juga mau belanja" Kebetulan yang terlalu mengada-ada. Tapi ide tentang belanja bersama unik juga. "Oke, aku ke sana dulu ya"  Tak butuh waktu lama bagimu untuk kembali menghampiriku. Sepertinya memang benar, ketika belanja pria  tidak lebih lama dibanding wanita "Aku...

Pernikahan dan Rahasia

Sudah setengah jam berlalu sejak waktu yang ditentukan. Kamu belum juga tiba, mungkin terjebak macet atau terjebak klien. Dari penuturanmu, klien yang datang akhir-akhir ini berasal dari ragam kasus yang cukup unik. Tentu saja kamu sebagai pengacara yang dipilih mereka harus ekstra menguras pikiran bagaimana cara menyelesaikannya tanpa mendatangkan masalah baru.   Kedai kopi favoritmu tak terlalu ramai setiap Jumat malam. Inilah yang mampu menahan kita bertukar cerita selama yang kita mau, lagi pula kedai kopi ini buka dua puluh empat jam. Aku melambaikan tangan ketika kutangkap sosokmu di sudut ruang. Dalam sekejap kita sudah saling berhadapan. ”Gimana hari ini? Maksudku seminggu terakhir ini?” aku langsung mencecarmu dengan pertanyaan. “Pusing banget. Kamu tahu gak? Klienku ada yang ngajuin cerai di usia pernikahan yang hampir 30 tahun. Gak ngerti deh apa yang ada di pikiran mereka,” seperti biasa kamu langsung bercerita panjang lebar. “Hah? Serius kamu? Tapi itu gak ...

Puisi

“Aku sebentar lagi pulang, kamu masih mau nungguin kan?” Sebaris pesan darimu menyapa gigilnya malam. Tak usah kubalas kamu pun mengerti, menunggumu sudah menjadi hobi yang kujalankan beberapa bulan terakhir ini. Aku teringat peistiwa setahun lalu saat pertama kali menemukanmu. Kala itu aku sedang menyaksikan pembacaan puisi oleh salah seorang penyair ternama di kota ini. Kehadiranku boleh dibilang terlambat, sehingga aku terpaksa berdiri untuk beberapa waktu. Kalau saja kamu yang tepat berada di sebelahku tidak menawarkan tempat duduk, mungkin aku akan terus bertopang dengan kedua kaki hingga acara usai. “Terima kasih,” aku melemparkan senyum penuh syukur. “ Perempuan datang atas nama cinta ,” (1) kamu menjawab dengan membaca sebaris puisi yang cukup terkenal. Aku terperanjat, lalu berpikir apakah tadi aku salah ucap? “Eh... Bunda pergi karena cinta ,” (1) dan dengan lugunya aku meneruskan puisi tersebut ke baris selanjutnya. Tanggapanku memancingmu untuk berpuisi kemba...

Tangerang-Surabaya

Barangkali kamu tidak tahu mengapa tanggal hari ini melekat kuat dalam kepalaku. Atau mungkin kamu tidak sadar bahwa sejarah baru untuk esok telah tercipta. Ah iya kamu selalu lupa dan aku selalu ingat Detik ini juga kuraih laptop dan mengirim sebaris pesan padamu. Teknologi selalu berhasil menghubungkan Tangerang-Surabaya seperti rumahku dan minimarket. “Selamat menjadi orang dewasa yang sesungguhnya” Satu jam berlalu dan pesanku belum kau jawab, kau baca pun mungkin tak sempat. Sebab pesanku adalah pesan kesekian yang tertumpuk dalam kotak masukmu. Mungkin kau berpikir ini singkat, padat, dan tidak jelas. Tetapi tahukah kamu? Dewasa yang sesungguhnya adalah tahu langkah apa yang kamu ambil. Mengerti kapan harus nakal dan kalem. Dan memahami apa yang disebut prioritas. Jadi apa prioritasmu di usia baru ini? Semoga segera kau segerakan. Sekali lagi, selamat ulang tahun! Tangerang, 8 Juli 2016