Skip to main content

Tangerang-Surabaya

Barangkali kamu tidak tahu mengapa tanggal hari ini melekat kuat dalam kepalaku. Atau mungkin kamu tidak sadar bahwa sejarah baru untuk esok telah tercipta. Ah iya kamu selalu lupa dan aku selalu ingat
Detik ini juga kuraih laptop dan mengirim sebaris pesan padamu. Teknologi selalu berhasil menghubungkan Tangerang-Surabaya seperti rumahku dan minimarket.
“Selamat menjadi orang dewasa yang sesungguhnya”
Satu jam berlalu dan pesanku belum kau jawab, kau baca pun mungkin tak sempat. Sebab pesanku adalah pesan kesekian yang tertumpuk dalam kotak masukmu.
Mungkin kau berpikir ini singkat, padat, dan tidak jelas. Tetapi tahukah kamu? Dewasa yang sesungguhnya adalah tahu langkah apa yang kamu ambil. Mengerti kapan harus nakal dan kalem. Dan memahami apa yang disebut prioritas.
Jadi apa prioritasmu di usia baru ini? Semoga segera kau segerakan. Sekali lagi, selamat ulang tahun!

Tangerang, 8 Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025

Maaf di Awal Bulan

Baru saja kita menutup Mei dengan tertawa Namun tanpa sengaja kubuka Juni dengan kecewa Hingga menutup gema suara-suara bahagiamu Yang harusnya rutin aku terima setiap waktu Jadi bagaimana kalau bunga ini kamu terima dulu sebagai pesan permintaan maafku?  Kemudian kita mulai lagi langkah baru untuk menutup dengan bahagia bulan-bulan selanjutnya Tangerang, Juni 2023