Skip to main content

Rival

“Udah ketemu?” pertanyaan yang kulontarkan tepat ketika wajahmu muncul dari balik rak-rak buku.

Kau mengangkat bahu dengan raut pasrah, “kayaknya di sini gak ada deh, cari tempat lain yuk”.

Semesta sepertinya sedang berpihak kepadaku, hari ini aku bebas menghabiskan waktu denganmu. Perempuan itu tak sanggup menemanimu. Dia sibuk mengejar deadline pemotretan majalah yang hampir terbit tepat di saat kau butuh partner dalam memilih buku acuan untuk tugas akhir.  Rasanya seperti menang lotre, dan hadiahnya kamu.

Kita menelusuri jalan-jalan kota yang cukup ramai senja itu. Seperti biasa kau menyenandungkan lagu-lagu The Beatles, seolah jalanan yang ramai ini adalah audiens dan motor bebek ini adalah panggunggmu. Kau terus bersenandung sampai kita diberhentikan lampu merah.

“Tugas akhirmu gimana?” kau memulai pembicaraan.

“Minggu depan aku sidang,” jawabku dengan bangga.

“Loh kok cepet banget?”

“Aku udah kan udah bilang, aku bakal lulus duluan. Trus ninggalin kamu hahahaha... ”

Tawa berderai dari mulutmu. Lagi-lagi aku terpaku, ingin kubekukan waktu biar kusimpan tawamu dalam saku, jangan sampai perempuan itu tahu. Atau mungkin dia tahu, bahwa kau selalu memberikan debar yang berkali-kali mengetuk sanubari  dan dia memilih bungkam.  Apa dia pernah cemburu? Entahlah, yang pasti aku mengenal kau jauh lebih baik daripada dia.

“Makan dulu ya, aku laper e” kau menghentikan motormu di depan burjo.

“Eh kok, aku kan belum bilang mau,” aku mencoba protes, walaupun aku tahu itu sia-sia.

“Bodo amat, aku laper,” kau segera memesan dua porsi mie instan dengan nasi tentunya, dan dua gelas air es.

Dua mangkok mie instan ludes dalam sekejap. Mencari buku acuan cukup menguras energi ternyata. Sudut mataku menangkap gerak-gerikmu yang gelisah, sesekali wajahmu tampak tegang. Seperti ada yang ingin kau utarakan, namun enggan.

“Kamu kenapa?” aku memecahkan bisu. Kau menatapku sejenak, kemudian berpikir, dan menghela napas. Bibirmu masih bungkam, aku menyipitkan mataku mencoba menggali apa yang kau pendam dalam matamu. Mengenalmu sejak empat tahun yang lalu, membuatku sedikit banyak peka tentang tingkah lakumu yang tidak biasa malam ini.

“Aku mau nyatain perasaan sama dia, menurutmu gimana?” akhirnya terjawab sudah.

“Owalaaah mau nembak toh, yaudah gaslaaah. Kenapa e? Gak punya nyali ya? Hahaha...”

Kamu tersenyum malu, sedang aku terus tertawa kendati perih mengiris sanubari. Sial... semesta hanya berpihak pada hari ini, bukan hati ini.



Tangerang, 8 Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025