“Aku sebentar lagi pulang, kamu masih mau nungguin kan?”
Sebaris pesan darimu menyapa gigilnya malam. Tak usah kubalas kamu pun
mengerti, menunggumu sudah menjadi hobi yang kujalankan beberapa bulan terakhir
ini.
Aku teringat peistiwa setahun lalu saat pertama kali
menemukanmu. Kala itu aku sedang menyaksikan pembacaan puisi oleh salah seorang
penyair ternama di kota ini. Kehadiranku boleh dibilang terlambat, sehingga aku
terpaksa berdiri untuk beberapa waktu. Kalau saja kamu yang tepat berada di
sebelahku tidak menawarkan tempat duduk, mungkin aku akan terus bertopang
dengan kedua kaki hingga acara usai.
“Terima kasih,” aku melemparkan senyum penuh syukur.
“Perempuan datang atas
nama cinta,”(1) kamu menjawab dengan membaca sebaris puisi yang cukup terkenal.
Aku terperanjat, lalu berpikir apakah tadi aku salah ucap?
“Eh... Bunda pergi
karena cinta,”(1) dan dengan lugunya aku meneruskan puisi tersebut ke baris
selanjutnya.
Tanggapanku memancingmu untuk berpuisi kembali. Akhirnya kita
sibuk berbalas puisi hingga ujung puisi. Aku memasang wajah heran, dan kamu tertawa
atas ekspresi yang kutunjukkan. Bagaimana mungkin aku berpuisi bersama orang
yang baru kutemui kurang dari sejam yang lalu?
“Siapa namamu wahai Nona Penyair?” pertanyaanmu membuyarkan
pikiran yang sedang berdialog dengan realita. Refleks aku tertawa. Tingkahmu
yang seolah Sang Pujangga melenyapkan risih yang sempat singgah.
“Aku Penyair Tanpa Nama”
“Kalau begitu aku Penyair Tanpa Wajah”
“Wah, menyimpan dendam atau rindu?”
“Nanti kamu juga tahu”
Malam itu kita membuat panggung sendiri. Penyair di depan
sana tak lagi mampu mencuri perhatian. Pentas yang kita rancang lebih menarik,
terkadang beberapa pasang mata tajam melirik. Tadinya kupikir mereka iri hati, rupanya tawa kita mengusik konsentrasi. Tapi siapa peduli? Kita dan mereka
sama-sama menikmati puisi, hanya saja kita tak rela meninggalkan panggung yang
kita bangun di atas kepercayaan diri.
Aku tersenyum kala peristiwa setahun lalu singgah dalam ingatan.
Tiba-tiba aku ingin membalas pesanmu dan meminta sesuatu. Mungkin ini terlalu
mendadak, tapi aku yakin kamu tak kuasa menolak.
“Jangan pulang, tanpa sebait puisi di muka pintu.”
Tangerang, 10 Juli 2016
Note :
(1) Puisi Raka Prijanto
Comments
Post a Comment