Skip to main content

Lagi-lagi Desember

Ini masih terlalu pagi untuk menerima tamu. Tapi lelaki itu sudah berdiri di ambang pintu.
Jujur saja, aku malas menanggapinya. Namun tak ada alasan yang cukup masuk akal untuk menyangkal kehadirannya.
Hmm, sebenarnya ada satu alasan. Tapi ini sungguh tidak masuk akal.


Bulan kelahirannya, bulan Desember.

"Ngapain ke sini pagi-pagi?" tanyaku dingin.
"Mau jemput kamu"
"Ke mana? Ini baru jam 8 pagi"
"Udah ikut aja. Sana mandi, kamu kan kalau mandi lama"  

Satu setengah jam kemudian dia membawaku ke supermarket di kota ini.
Hey, sejak kapan ada orang kencan di supermarket?
"Tanggal segini kamu biasa belanja bulanan kan? Kebetulan aku juga mau belanja"
Kebetulan yang terlalu mengada-ada. Tapi ide tentang belanja bersama unik juga.
"Oke, aku ke sana dulu ya" 

Tak butuh waktu lama bagimu untuk kembali menghampiriku.
Sepertinya memang benar, ketika belanja pria  tidak lebih lama dibanding wanita
"Aku udah nih, kamu masih ada yang mau dicari?"
"Iya, di lorong sebelah kayaknya. Kalau posisi barangnya belum berubah. 

Keranjang belanjaannya sebagian besar diisi sabun. Mungkin dia seorang juragan sabun, atau sejenisnya. 
"Kamu borong sabun?"
"Hehehe diskon tujuh puluh persen. Lumayan nyetok buat berapa bulan ke depan"
"Kupikir cuma perempuan yang peka sama diskon"
Dia tertawa. Aku terpana.
Duh.  

Sepertinya aku mematahkan prinsip untuk menolak laki-laki Desember.
Entah mengapa lelaki Desember punya kutub magnet yang berlawanan denganku.
Dan lagi-lagi aku tertarik.  


 Tangerang, 14 Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025