Skip to main content

Pernikahan dan Rahasia


Sudah setengah jam berlalu sejak waktu yang ditentukan. Kamu belum juga tiba, mungkin terjebak macet atau terjebak klien. Dari penuturanmu, klien yang datang akhir-akhir ini berasal dari ragam kasus yang cukup unik. Tentu saja kamu sebagai pengacara yang dipilih mereka harus ekstra menguras pikiran bagaimana cara menyelesaikannya tanpa mendatangkan masalah baru.
 
Kedai kopi favoritmu tak terlalu ramai setiap Jumat malam. Inilah yang mampu menahan kita bertukar cerita selama yang kita mau, lagi pula kedai kopi ini buka dua puluh empat jam. Aku melambaikan tangan ketika kutangkap sosokmu di sudut ruang. Dalam sekejap kita sudah saling berhadapan.

”Gimana hari ini? Maksudku seminggu terakhir ini?” aku langsung mencecarmu dengan pertanyaan.
“Pusing banget. Kamu tahu gak? Klienku ada yang ngajuin cerai di usia pernikahan yang hampir 30 tahun. Gak ngerti deh apa yang ada di pikiran mereka,” seperti biasa kamu langsung bercerita panjang lebar.
“Hah? Serius kamu? Tapi itu gak bikin kamu takut nikah kan?”
“Engga dong, aku malah ngebet. Hahahahah...”
Tatapan jenakamu entah mengapa terasa mengusik. Aku tersenyum kecil. Sejujurnya aku bersyukur kehadiranku mampu menjadi tempatmu menyandarkan lelah, bukan parasit atau sejenisnya yang disebut mengganggu oleh mereka. Katamu aku cerewet, tapi itu yang membuatmu menetap. Tingkahku yang terlalu lincah kau bilang jadi sumber energi baru.

Kau sering mengeluh tentang sifat keras kepalamu yang sulit diterima orang-orang. Namun bagiku itu hal yang menarik. Bayangkan, kita bisa berdebat hingga berjam-jam setelah itu saling menertawakan. Dan kita selalu ingin mengulangnya kembali.

“Kamu sendiri, apa yang ada di benakmu tentang pernikahan?” tiba-tiba kamu mengajukan pertanyaan yang tak pernah kuduga sebelumnya.
“Kamu,” tentu saja jawaban itu hanya kusimpan dalam hati.
“Menghabiskan hidup bersama orang yang membuatku merasa di rumah,” aku menjawab yakin.
“Orang yang seperti apa yang kamu cari?”
“Entahlah”
“Udah ketemu orangnya?”
“Aku nggak tahu”
Sial, mengapa kau mengajukan pertanyaan yang aku hindari? Pernikahan adalah hal yang tabu untuk kita perbincangkan. Terlalu rumit untuk aku dan kau menjabarkannya dalam realita. Jadi kita simpan saja dalam angan segala hal yang berbau pernikahan, karena rahasia tahu batasnya kapan harus menyerah.
Masalahnya aku tidak tahu sampai kapan rahasia di antara kita akan menyerah. Waktu juga enggan menjawab kapan dia tiba. Jadi haruskah aku atau kamu yang meminta rahasia menyerah?
 Sudah lewat pergantian hari. Kita tidak lagi bertukar kata, hanya saling melempar pandang. Barangkali kau mampu membaca resahku? Atau kau juga mengharap hal yang sama dariku?

“Minggu depan aku menikah. Hmm... mungkin kita gak akan bisa ketemu lagi. Aku takut kalau sampai dia tahu,” kamu mengatakannya dengan hati-hati. Mungkin takut menyakitiku. Kamu tidak perlu takut, sejak awal aku tahu semuanya akan berakhir seperti ini. Dan takdir sepertinya enggan berkonspirasi dengan renjana yang kusimpan tentang kamu. Menjadi kekasih rahasia seorang pria menjelang pernikahannya memang membutuhkan nyali besar, nyali untuk ditinggalkan.

“Ini semua di luar kendaliku. Aku lagi proses nyiapin pernikahan dan di saat bersamaan jatuh cinta sama kamu. Aku tahu ini salah, kita tahu ini salah. Sayangnya kita cukup naif membiarkan cinta hidup, dan sekarang membunuhnya pun aku nggak sanggup,” kamu masih bernarasi, aku memilih bungkam.

“Aku minta maaf, tolong jangan benci aku. Aku juga sama tersiksanya kayak kamu,” barusan kamu memohon? Oh, mungkin hanya perasaanku saja.
Ketahuilah, aku tidak marah padamu, apalagi benci. Aku terlalu payah untuk melakukan keduanya. Otakku sedang sibuk berpikir bagaimana caranya supaya tidak menangis di hadapanmu. Aku ingin kamu tahu bahwa aku cukup kuat melalui semuanya, walaupun kenyataannya tidak.

“Selamat untuk pernikahanmu. Kamu tahu sendiri kan aku paling payah kalau disuruh benci sama kamu?” Aku mengecup keningmu cukup lama dan segera beranjak.
Tak butuh banyak kata kuungkapkan. Dari awal semuanya sudah salah. Aku tak semestinya hadir dan kau tak semestinya memberi ruang. Aku benci, bukan benci kamu. Aku benci tak ada lagi kamu di kedai kopi, aku benci tak ada lagi kamu di pesan singkatku, dan aku benci tak bisa lagi berdebat denganmu. Tepatnya, aku benci kehilanganmu.


Selamat tinggal kasih tak terungkap
Semoga kau lupakan aku cepat
Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu


Tangerang, 12 Juli 2016

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025