Skip to main content

Kumpulan Sajak #1

-1-
Coba buka lipatan malam
barangkali maaf untukmu
tersembunyi dalam gelap

-2-
Kopiku tak lagi nikmat
sebab kini rupamu menjelma ampas
di dasar cangkir

-3-
Matamu abjad ke dua puluh tujuh
ilusi
dan tak terbaca

-4-
Nyaliku terbawa asap
dibakar amarahmu
petang tadi

-5-
Debu di wajahmu bercerita
tentang baku hantam anak manusia
jadi jawara di jalan raya
   
-6-
Sepanjang Jogja-Imogiri
motor bebek menyelinap diam-diam
tertangkap basah di Kantor Kecamatan 

-7-
Sudah penghujung bulan
mari susun taktik
biar uang enggan lari-lari

-8-
Dingin ragu bertandang
tak sanggup lagi mengetuk jendela
sebab selimut didekap tetangga

-9-
Lagi-lagi kopi
memudarkan jejak-jejak waktu
yang berpindah sekian mili

-10-
Dinding ruang sibuk berbisik
perihal doa dan dosa kita
yang melebur semalam    


Imogiri, 1 Agustus 2016 

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025