Yogyakarta, 3 Maret 2016
.
Apa kabarmu "sesuatu" yang kusebut masa lalu? Ketahuilah, tak terhitung berapa kali masa aku mengunjungimu, terkadang dengan mengendarai rinai yang jatuh di luar jendela, atau terbang bersama lantunan lagu yang dinyanyikan oleh entah siapa.
Tenanglah, aku bukan rindu, atau ingin kembali menetap. Aku hanya sekedar singgah untuk memeriksa apakah ada cermin yang tertinggal di sana. Barangkali aku bisa berkaca, sehingga tak usah lagi kubuat khilaf yang serupa. Atau mungkin menggores luka pada garis yang sama.
Mengunjungimu sekilas dan kembali pada tempatku tak selalu menyisakan buah tangan yang manis. Terkadang tak sengaja sampah yang sudah membusukpun menyusup di sela-sela sukma. Kemudian menyerap segala warna-warni gairah yang sempat hinggap. Keberanianku lenyap kau bawa lari, sebabnya aku takut segala yang berwarna-warni akan menjelma jadi kelabu ataupun hitam.
Entahlah, rasanya aku ingin mengutukmu menjadi cermin dan kuselipkan tepat di saku bajuku. Sehingga aku dan masa depanku dapat bercermin dan evaluasi sejenak, sebelum kami memutuskan ke mana kami akan melangkah.
.
.
.
Tertanda
-aku yang ingin mengutukmu menjadi cermin-
Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu menanti tepat yang tak kunjung berlaku Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher
Comments
Post a Comment