Skip to main content

Malam Jumat di Alun-alun Kidul

Lalu lalang kendaraan dan permainan memenuhi badan jalan. Sesekali di antara mereka enggan mengalah. Ada kendaraan yang melaju tanpa sabar, dengan klakson selalu terjamah. Ada pula pengunjung yang entah bagaimana membuat jalur sendiri untuk permainan mereka. Sehingga tak jarang teguran halus, hingga umpatan kasar terlahir dari bibir-bibir pengguna jalan lainnya. Pihak yang menerima umpatan hanya memamerkan tawa berderai, baginya itu hanya perkara sepele. Tujuan utama ke sini adalah menghempas segala penat.
Kemudian di tengah alun-alun beberapa manusia sibuk bertaruh melewati si kembar dengan mata tertutup. Penasaran mendominasi hasrat mereka yang sedang mencoba. Rekan-rekan mereka yang tidak ikut mencoba memberi sorakan dari belakang. Sesekali ada juga yang sengaja mengumumkan rute yang salah agar kawannya tersesat. Karena rute yang keliru tersebut, tak jarang pula ada peserta coba-coba yang melenceng jauh nyaris ke tepi jalan. Jika sudah begitu, maka rekannya akan membimbing kembali ke tempat seharusnya sambil tertawa geli. Beberapa peserta bersorak girang ketika berhasil melewati si kembar dalam keadaan mata tertutup. Bagi mereka yang baru pertama kali mencoba itu adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Sedang untuk mereka yang sudah beberapa waktu berkunjung, melewati si kembar merupakan obat rindu yang tiada duanya bagi tempat ini.
Yang paling aku rindukan tentu saja bakso bakar yang dijual di tengah alun-alun. Aromanya yang memenuhi udara malam sanggup membuat aku bertandang. Rasanya yang gurih begitu mencandu untuk aku nikmati kembali. Bakso bakar adalah kudapan paling pas untuk mengisi lelah usai memutari alun-alun dengan permainan, ataupun setelah uji coba melewati si kembar. Berhasil tidaknya mereka terlewati, bakso bakar akan selalu di hati  <3

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025