Aku terseret dalam arus waktu
Yang berlabuh dalam matamu
Di mana segala tanya retas
Dahaga rindu menjelma puas
.
Aku ingin terus berdiam
Di balik matamu nan kelam
Melebur segala resah dan pasrah
Kembali membelai kalbu yang lelah
.
Namun semesta tergugu
Pada hasrat yang membatu
Pikirku masih harus ku menunggu
Realita dirimu miliknya satu
.
Kini kutulis hikayat renjana dalam dada
Tentang hujan rindu enggan mereda
Kendati kusampul dengan tawa
Hanya dirimu belahan jiwa
.
Yogyakarta, 9 Maret 2016
Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025
Comments
Post a Comment