Malam menangkapku dalam lengannya yang legam. Sesekali mencumbu rayu dengan jemarinya yang syahdu. Aku terpikat, jauh dalam gebuhan rasa yang pasrah. Namun seketika pula waktu menamparku keras. Caci maki terlontar bak hujan di kala senja. Katanya aku penghianat, dalam gelap berdua bak lupa ingatan. Acuh pada yang menanti di rumah. Kemudian aku tersentak, kutikam malam dengan dendam paling dalam. Jangan sampai dia kembali merayu, apalagi mencuri cumbu. Jangan.
Yogyakarta, 22 Maret 201
Yogyakarta, 22 Maret 201
Comments
Post a Comment