Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2016

Selamat Ulang Tahun

Hari ini kembali bertandang di beranda waktumu mengusir belasan yang menetap sebab bilangan baru telah tiba hinggap di pucuk kepalamu siap jadi pengingat kala malas melanda atau penuntun jika kau bertemu buntu . Terkadang dia menetap dalam sukma menyuburkan benih-benih baik yang kau tanam hingga tumbuh menjadi laku benar meringankan tanganmu bagi sesama . Selamat menyanggah dua kepala! kelak kau sanggup memikul segala tanggung jawab yang dititipkan Tuhan kepadamu . Yogyakarta, 24 Maret 2016 . . . . . HBD JAN! SEMOGA LEMAKMU MAKIN NAMBAH!!!! AMEN

Beranjak!

Mari kita lekas beranjak dari cengkraman bimbang jua belenggu yang mengikat . Atau kita lompat saja daripada terus menggantung pada dahan abu-abu . Sebab beberapa jawab enggan bertemu tanya dan memilih sembunyi di balik dada penuh teka-teki yang riuh oleh segala prasangka . Dan kini teka-teki retak padamkan segala debar kemudian menjelaga dalam dua bola matamu . Yogyakarta, 28 Maret 2016

Unmatch

Kau Hujanku

Lalu kau menjelma hujan yang merebah di ujung sepatuku hingga tiap langkah tak pernah berjarak darimu Sebab hujan adalah isyarat hadirmu yang telah padam dalam pinangan sang waktu . Jog, 2016

Ketika Waktu Menampar

Malam menangkapku dalam lengannya yang legam. Sesekali mencumbu rayu dengan jemarinya yang syahdu. Aku terpikat, jauh dalam gebuhan rasa yang pasrah. Namun seketika pula waktu menamparku keras. Caci maki terlontar bak hujan di kala senja. Katanya aku penghianat, dalam gelap berdua bak lupa ingatan. Acuh pada yang menanti di rumah. Kemudian aku tersentak, kutikam malam dengan dendam paling dalam. Jangan sampai dia kembali merayu, apalagi mencuri cumbu. Jangan. Yogyakarta, 22 Maret 201

Puisi (?)

Aksara merebah pada secarik hampa Tentang sebongkah renjana tanpa nama Entah untuk siapa dan mengapa . Diam-diam rahim imaji kontraksi Hingga lahir larik-larik di ujung pena Berbaris dengan rupa tanpa dosa  . Mereka bilang ini puisi Isyarat renjana tak bersuara Kataku ini anak-anak imaji Hasil bersetubuh dengan rindu silam . Yogyakarta, 21 Maret 2016

Malam Jumat di Alun-alun Kidul

Lalu lalang kendaraan dan permainan memenuhi badan jalan. Sesekali di antara mereka enggan mengalah. Ada kendaraan yang melaju tanpa sabar, dengan klakson selalu terjamah. Ada pula pengunjung yang entah bagaimana membuat jalur sendiri untuk permainan mereka. Sehingga tak jarang teguran halus, hingga umpatan kasar terlahir dari bibir-bibir pengguna jalan lainnya. Pihak yang menerima umpatan hanya memamerkan tawa berderai, baginya itu hanya perkara sepele. Tujuan utama ke sini adalah menghempas segala penat. Kemudian di tengah alun-alun beberapa manusia sibuk bertaruh melewati si kembar dengan mata tertutup. Penasaran mendominasi hasrat mereka yang sedang mencoba. Rekan-rekan mereka yang tidak ikut mencoba memberi sorakan dari belakang. Sesekali ada juga yang sengaja mengumumkan rute yang salah agar kawannya tersesat. Karena rute yang keliru tersebut, tak jarang pula ada peserta coba-coba yang melenceng jauh nyaris ke tepi jalan. Jika sudah begitu, maka rekannya akan membimbing kembal...

Maybe it sounds silly or creepy, but...

Salib yang Hilang

Aku tersentak salibku hilang! sejak beberapa Jumat yang lalu aku enggan mencari terlalu sibuk meneguk nikmat sendiri Pada khilaf aku berpasrah menitip salib entah pada siapa kemudian melupa atau pura-pura lupa Beberapa masa silam aku terjembab jauh dari putih bahkan hitam tak layak mewakili sebabnya aku candu pada laku yang disebut dosa kemudian enggan sadar tetap laju kendati ingkar Salib yang hilang akan kudapat sebelum terang supaya dapat kembali kupikul demi putih yang memudar nyaris lenyap Jog, 2016

Suatu Malam di Jogja

Pada malam kesepuluh bulan tiga Gigil mendekap manja sepasang raga Yang masih bernaung dalam tanya Renjana dalam dada disebut apa? . Debar-debar mulai bertikai Bertaruh di hadapan waktu Menelanjangi teka-teki Abu-abu pemicu candu . Kemudian hening Usai debar bertanding Kalah menang tanpa jawab Sebab belum masanya genap . Suatu malam di Jogja Diam-diam hasrat setia menerka Tentang renjana nan bertakhta Dan masih bernama entah . Yogyakarta, 10 Maret 2016

Belahan Jiwa

Aku terseret dalam arus waktu Yang berlabuh dalam matamu Di mana segala tanya retas Dahaga rindu menjelma puas . Aku ingin terus berdiam Di balik matamu nan kelam Melebur segala resah dan pasrah Kembali membelai kalbu yang lelah . Namun semesta tergugu Pada hasrat yang membatu Pikirku masih harus ku menunggu Realita dirimu miliknya satu . Kini kutulis hikayat renjana dalam dada Tentang hujan rindu enggan mereda Kendati kusampul dengan tawa Hanya dirimu belahan jiwa . Yogyakarta, 9 Maret 2016

LOST

Surat Kepada Masa Lalu

Yogyakarta, 3 Maret 2016 . Apa kabarmu "sesuatu" yang kusebut masa lalu? Ketahuilah, tak terhitung berapa kali masa aku mengunjungimu, terkadang dengan mengendarai rinai yang jatuh di luar jendela, atau terbang bersama lantunan lagu yang dinyanyikan oleh entah siapa. Tenanglah, aku bukan rindu, atau ingin kembali menetap. Aku hanya sekedar singgah untuk memeriksa apakah ada cermin yang tertinggal di sana. Barangkali aku bisa berkaca, sehingga tak usah lagi kubuat khilaf yang serupa. Atau mungkin menggores luka pada garis yang sama. Mengunjungimu sekilas dan kembali pada tempatku tak selalu menyisakan buah tangan yang manis. Terkadang tak sengaja sampah yang sudah membusukpun menyusup di sela-sela sukma. Kemudian menyerap segala warna-warni gairah yang sempat hinggap. Keberanianku lenyap kau bawa lari, sebabnya aku takut segala yang berwarna-warni akan menjelma jadi kelabu ataupun hitam. Entahlah, rasanya aku ingin mengutukmu menjadi cermin dan kuselipkan tepat di saku ba...