Kala pagi kita mulai membelah jalan-jalan kota
menyapa embun yang sibuk mencumbu daun
seolah melenyapkan sisa-sisa rindu selepas subuh
Dan kita melawan gigil yang merasuki pori-pori
dengan perbincangan hangat tentang asa yang kerap bertanya kapan bertemu takdir
seperti secangkir kopi setia menanti penikmatnya
Kemudian kita berbelok, menantang kerikil-kerikil tajam sepanjang jalan
mematuhi titah sang pemilik yang tergesa meninggalkan mendung
kau tiada mengaduh kendati ngilu merambati sekujur tubuh
kau tak pernah mengerti, aku menelan cemas dalam bisu
Tiba-tiba rinai jatuh tepat ketika aku memasang rupa sendu
seolah semesta ikut menyamarkan segumpal gundah
kita berlari, melintasi sudut-sudut basah yang mendingin
berlari
dari realita yang menentang "kita"
Yogyakarta, 5 Mei 2016
menyapa embun yang sibuk mencumbu daun
seolah melenyapkan sisa-sisa rindu selepas subuh
Dan kita melawan gigil yang merasuki pori-pori
dengan perbincangan hangat tentang asa yang kerap bertanya kapan bertemu takdir
seperti secangkir kopi setia menanti penikmatnya
Kemudian kita berbelok, menantang kerikil-kerikil tajam sepanjang jalan
mematuhi titah sang pemilik yang tergesa meninggalkan mendung
kau tiada mengaduh kendati ngilu merambati sekujur tubuh
kau tak pernah mengerti, aku menelan cemas dalam bisu
Tiba-tiba rinai jatuh tepat ketika aku memasang rupa sendu
seolah semesta ikut menyamarkan segumpal gundah
kita berlari, melintasi sudut-sudut basah yang mendingin
berlari
dari realita yang menentang "kita"
Yogyakarta, 5 Mei 2016
Comments
Post a Comment