Tuan datang
dengan bara api dalam mata
memantik detak dalam dada
yang nyaris retak dihantam musim dingin
.
Hangat merengkuh dinding sanubari
melahirkan anak-anak tanya dari rahim penantian
entah siapa yang membuahinya
Mungkin senyummu
atau waktu yang berhenti di kala aku terpenjara debarmu
.
Ah ... tuan
harus bagaimana biar aku tak terbakar ragu
sedang dalam pejammu aku tak pernah jadi bayang
aku menjelma tanya
perlahan memadamkan api di matamu
.
Yogyakarta, 27 Mei 2016
Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025
Comments
Post a Comment