“Aku sebentar lagi pulang, kamu masih mau nungguin kan?” Sebaris pesan darimu menyapa gigilnya malam. Tak usah kubalas kamu pun mengerti, menunggumu sudah menjadi hobi yang kujalankan beberapa bulan terakhir ini. Aku teringat peistiwa setahun lalu saat pertama kali menemukanmu. Kala itu aku sedang menyaksikan pembacaan puisi oleh salah seorang penyair ternama di kota ini. Kehadiranku boleh dibilang terlambat, sehingga aku terpaksa berdiri untuk beberapa waktu. Kalau saja kamu yang tepat berada di sebelahku tidak menawarkan tempat duduk, mungkin aku akan terus bertopang dengan kedua kaki hingga acara usai. “Terima kasih,” aku melemparkan senyum penuh syukur. “ Perempuan datang atas nama cinta ,” (1) kamu menjawab dengan membaca sebaris puisi yang cukup terkenal. Aku terperanjat, lalu berpikir apakah tadi aku salah ucap? “Eh... Bunda pergi karena cinta ,” (1) dan dengan lugunya aku meneruskan puisi tersebut ke baris selanjutnya. Tanggapanku memancingmu untuk berpuisi kemba...