Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2016

Berunding dengan Tuhan

Api di Matamu

Tuan datang dengan bara api dalam mata memantik detak dalam dada yang nyaris retak dihantam musim dingin . Hangat merengkuh dinding sanubari melahirkan anak-anak tanya dari rahim penantian entah siapa yang membuahinya Mungkin senyummu atau waktu yang berhenti di kala aku terpenjara debarmu . Ah ... tuan harus bagaimana biar aku tak terbakar ragu sedang dalam pejammu aku tak pernah jadi bayang aku menjelma tanya perlahan memadamkan api di matamu . Yogyakarta, 27 Mei 2016

Negoisasi

Legam masih tegar di luar jendela mengintip malu pada aku yang setia terjaga sembari meniupkan napasnya di antara kisi-kisi mendinginkan kopi tanpa gula yang menggenang semalam suntuk Adakah aku mengisi ruang dengan sepi bungkam di bibir, kecamuk di kepala entah apa ribut-ribut dalam pikir toh, detak jarum jam tak peduli Kemarilah waktu aku ingin bernegoisasi pelankan lajumu sebab kecamuk dalam kepala enggan mereda tanpa kau mendampingi Berjalanlah kalian perlahan bersisian menuju akhir di meja dosen Yogyakarta, 23 Mei 2016

Sekat

The Most Romantic Bataknese Song

  dang na muba, dang na mose i <3

Malam Ini Saja

Malam ini saja biarkan aku bermain curang melupa pada setia juga janji Malam ini saja satu detik setelah kembang api mengangkasa dilempar dengan tawamu yang meledak-ledak dalam dadaku Malam ini saja aku ingin bercengkrama menahan sang waktu di bilik malam yang meretak Malam ini saja aku ingin kau berdiam bertahta walau sekejap dalam ingatan Yogyakarta,  16 Mei 2016

Lembaran Baru

Lembar baru tiba tepat di pergantian hari putih, bersih, tanpa noda aku bahagia pikirku bisa kuisi sesuka hati menulis sana-sini melukis di sudut-sudut atau menghapus yang tak berkenan "Tunggu," tiba-tiba Tuhan berbisik di sudut hati "Ada apa Tuhan?"  "Isilah lembaran itu menurut kehendakKu, bukan kehendakmu. Datanglah kepadaKu setelah habis satu kabisat, Aku akan meminta pertanggungjawabanmu atas semua yang kau buat di atas kertas ini" Semenjak hari itu mereka menyebutku si pemilih padahal aku hanya berhati-hati perihal mengisi lembar baru Yogyakarta, 6 Mei 2016

Tentang Sepasang Sepatu

Kala pagi kita mulai membelah jalan-jalan kota menyapa embun yang sibuk mencumbu daun seolah melenyapkan sisa-sisa rindu selepas subuh Dan kita melawan gigil yang merasuki pori-pori dengan perbincangan hangat tentang asa yang kerap bertanya kapan bertemu takdir seperti secangkir kopi setia menanti penikmatnya Kemudian kita berbelok, menantang kerikil-kerikil tajam sepanjang jalan mematuhi titah sang pemilik yang tergesa meninggalkan mendung kau tiada mengaduh kendati ngilu merambati sekujur tubuh kau tak pernah mengerti, aku menelan cemas dalam bisu Tiba-tiba rinai jatuh tepat ketika aku memasang rupa sendu  seolah semesta ikut menyamarkan segumpal gundah kita berlari, melintasi sudut-sudut basah yang mendingin berlari dari realita yang menentang "kita" Yogyakarta, 5 Mei 2016

Kehabisan Nyali

Mengubah hidup menjadi mati tak semudah mengenyahkan yang menetap menjadi pergi Wujudku tabu dalam debar juga hela nafasmu jadi baiknya padamkan saja bara yang tersisa sebab segala nyaliku melebur dalam pesan terakhir Jog, 2016

Lentera

Terang dilahirkan untuk mendampingi gelap Seperti lentera berjalan dalam lorong tanya mengisi ruang dengan lekuknya yang mendamba hangat . Teka-teki masih sembunyi dalam tempurung yang menanti kepulangan seberkas lentera dan menjamah segala tanya . Lalu mengapa lentera enggan bertandang? sedang kami sudah berbaris di muka syarat menunggu giliran datangnya lentera yang pendarnya nyaris redup dalam genggaman kuasa juga mereka yang senang hura-hura . Kusebut lentera itu Pendidikan . Yogyakarta, 2 Mei 2016