Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2015

Lara Sukma

Suatu hari di bulan dua belas Surat undangan mendarat di beranda Namamu namanya terukir jelas Pilu hati bak dihajar gada Sekar asmara yang elok merekah Ditebas habis pedang penghianatan Tiada kata sanggup lukiskan amarah Hanya kristal bening meluncur perlahan Aku bukan wanita bertopeng tegar Yang mampu lafalkan semoga bahagia Lara sukma yang kau toreh sangar Terpatri di memori sepanjang masa Tangerang, 4 Agustus 2015 -angelinaaamm-

Tarian Hujan

Ragaku memanggut mesra rinai hujan petang itu. Gerayangi rerintik dengan jemari tanpa bayang. Biarkan titik air mengikuti alurnya surai hitamku. Menampar wajah yang kian nestapa dirudung malang. Retinaku menangkap bayangmu di ujung jalan Payung kau genggam , titah terlontar pinta beranjak Aku masih ingin di sini menarikan tarian hujan Jangan beri aku payung, lekas kemari kawani aku berpijak! Tangerang, 24 Agustus 2015 -angelinaamm-

Rindu Dalam Secangkir Kopi

Aku menyesap perlahan secangkir kopi panas Rasa pahit menyapa indera pengecap Berdiam di sana enggan beranjak Begitupun rindu yang menggatung di sudut atma Bergelayut manja menanti diusir sang kala Teguh menetap hingga meredup asa Dan jemariku mulai berlarian di atas papan tombol Hujani ladang hampa dengan rangkaian aksara Sudikah netramu sejenak hampiri? Seiring fajar yang merangkak kembali ke peraduan Kupaksa lambung merengkuh dinginnya kopi Sedingin rindu yang kian membatu Senja di Kota Istimewa 29 September 2015 -angelinaamm-

Aku Mencintaimu dengan Sederhana

Jemari-jemari waktu tlah jauh merangkak lewati batas Tinggalkan aku yang bermunajad, lafalkan asa yang nyaris retas Kendatipun mustahil kau sanggup menerka Niscaya, renjana titipanNya kugenggam erat hingga pejaka Aku mencintaimu dengan sederhana Tanpa  terucap kata tapi maupun karena Aku mencintaimu dengan sederhana Seperti titik-titik air menjatuhi kuncup gulana Aku mencintaimu dengan sederhana Melalui sembahku padaNya di tiap novena Aku mencintaimu dengan sederhana Lewat aksara yang dilahirkan sebatang pena Dan biarkan bahtera rinduku berlabuh di dermaga sanubarimu Setelah letih mengarungi samudera asmara tanpa titik temu Kini kuikatkan temali hati pada tiang sengkala Bersamamu kunikmati remah-remah senja di batas cakrawala Yogyakarta, 8 September 2015 -angelinaamm-

Di Sela-sela Tugas Kuliah

Jemari sang kala terus merotasi tanpa henti. Seolah menyemangatiku yang sedang kelimpungan memerangi tugas-tugas yang semakin menggunung. Mengemis dijamah dengan buah pikiran hingga tuntas. Meronta kepada jemari untuk merangkainya dengan apik, sehingga mendapat penghargaan yang cukup tinggi. Ah, memang salahku yang membiarkan tugas terus menumpuk dari hari kemarin. Jelas-jelas keliru mengharapkan tugas kuliah tuntas dalam sekali tatap. Dan memang, menunda melaksanakan kewajiban bukan hal yang baik bukan? ;) -angelinaamm-

Kehilangan Aksara

Lembaran kisahku nyaris  usang Lama tak kugores dengan larik-larik aksara di atasanya Jemariku mati rasa Isi kepalaku tak mampu berjalan, diam di tempat Tak sanggup mengungkap satu dua kata  Hingga netra hanya terpaku pada lembaran hampa. Kumeratap di bawah cakrawala legam Bersama titik-titik cahaya menggelayut manja di sudutnya Rayuan angin malam pun tak kuhariaukan Suara rinai menjatuhi bumi jua tak mampu hilangkan Gemertak risau yang menggedor pintu hati Yang kini kehilangan aksaranya. -angelinaamm-

Selamat Datang Semester 5!

Kembali ke rutinitas seperti biasa. Di mana netra membuka ketika sang fajar masih malu–malu menampakkan dirinya. Bergegas langkahi waktu tuk berbenah seadanya. Kuhampiri bangunan megah di pinggir jalan raya, tempatku menuntut ilmu selama dua tahun terakhir. Kembali lagi ke tempat ini, memulai lagi aktivitas seperti biasa. Tentu saja dengan beban mata kuliah yang lebih berat dari semester kemarin. Entah mengapa isi kepalaku mulai menjalar ke mana-mana. Merencanakan satu dua hal untuk beberapa waktu ke depan. Aku hanya berharap rencana-rencana yang kujalin rapi dan kugantung di sudut angan, nanti bisa terealisasikan dengan segala usahaku.  Dan tak berakhir menjadi  sekedar angan belaka. Semoga Tuhan merestui. Amin J