Tubuhmu adalah rumah paling getir. Tiada ledakan sukacita dalam dada. Tak jua suburnya asa menggeliat di dataran jiwa. Sementara
kobar amarah masih membakar isi kepala.
Tubuhmu adalah rumah paling getir. Sebab seribu satu malam
dihujani dengan bombardir. Hingga kami lari telanjang menyingkir. Hakikatnya
kami pulang, menjelma jadi kaum terbuang.
Tubuhmu adalah rumah paling getir. Setelah dinodai
habis-habisan oleh Tuan Kikir. Digenggamnya tubuhmu erat, kemudian diarak-arak
dengan senyum bejat.
Tubuhmu adalah rumah paling getir. Sebab kini hanya berselubung
sepotong kain khawatir. Memantik nyala-nyala api dalam bola mata. Tunggulah hingga
dapat kembali kudekap tubuhmu penuh cinta.
Tangerang, 6 Februari 2016
*Terinspirasi dari Buku E. Rokajat Asura – Kupilih Jalan
Gerilya (Roman Hidup Panglima Besar Jendral Soedirman)
Comments
Post a Comment