Skip to main content

Rumah Paling Getir

Tubuhmu adalah rumah paling getir. Tiada ledakan sukacita dalam dada. Tak jua suburnya asa menggeliat di dataran jiwa. Sementara kobar amarah masih membakar isi kepala.
Tubuhmu adalah rumah paling getir. Sebab seribu satu malam dihujani dengan bombardir. Hingga kami lari telanjang menyingkir. Hakikatnya kami pulang, menjelma jadi kaum terbuang.
Tubuhmu adalah rumah paling getir. Setelah dinodai habis-habisan oleh Tuan Kikir. Digenggamnya tubuhmu erat, kemudian diarak-arak dengan senyum bejat.
Tubuhmu adalah rumah paling getir. Sebab kini hanya berselubung sepotong kain khawatir. Memantik nyala-nyala api dalam bola mata. Tunggulah hingga dapat kembali kudekap tubuhmu penuh cinta.


Tangerang, 6 Februari 2016

*Terinspirasi dari Buku E. Rokajat Asura – Kupilih Jalan Gerilya (Roman Hidup Panglima Besar Jendral Soedirman)

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025