Skip to main content

Hitam-Putih-Abu



Pertengahan bulan kedua ini selalu dihiasi semburat merah pun jua merah muda. Kata mereka ini masanya berbagi kasih sayang. Di mana para pecinta sibuk berkasih dengan kekasihnya. Hari di mana bunga bermekar di sudut kota ini. Diikuti sebatang hingga selusin cokelat yang katanya sebagai pemanis hari kasih sayang.
Hampir tiga dasawarsa kulalui denganmu, tak terpikir sedikitpun turut berpesta pora merayakan hari yang mereka bilang hari kasih sayang. Menggenggam tanganmu sejauh waktu merotasi sudah cukup untukku. Menjadi rumah tempat melabuhkan segala resah dan pasrah pun aku bahagia.
Sebab manis yang kucecap bukan pada sebatang cokelat, melainkan dalam senyummu yang mampu memikatku berkali-kali. Tak butuh merah terang dalam kelopak mawar, sebab cukup merah gincumu yang menyala tiap pagi. Tak perlu jua merah muda sebagai pemanis pada sebatang mawar ataupun sebatang cokelat. Karena merah muda ku telah kutemukan dalam semburat di pipimu.
Dan kasih sayang kita bukanlah merah, merah muda, ataupun sebatang cokelat yang manis di mulut saja. Kasih sayang kita terlalu konvensional, sayang. Seperti putaran film di tempo dahulu, di mana hanya terdapat tiga warna, yaitu hitam, putih dan kelabu.
Hitamku yang paling pekat dapat kau terima dengan hati yang lapang. Hingga kini memutih rambutku kau selalu setia menjadi pembuka dan penutup hari. Teruslah kau sulut tepi hatiku dengan api cintamu. Biarlah waktu menjadikanku abu, asal berlabuh dalam cintamu.

Tangerang, 14 Februari 2016





*Lah... berasa gue yang berumah tangga -_-*

Comments

Popular posts from this blog

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025

Maaf di Awal Bulan

Baru saja kita menutup Mei dengan tertawa Namun tanpa sengaja kubuka Juni dengan kecewa Hingga menutup gema suara-suara bahagiamu Yang harusnya rutin aku terima setiap waktu Jadi bagaimana kalau bunga ini kamu terima dulu sebagai pesan permintaan maafku?  Kemudian kita mulai lagi langkah baru untuk menutup dengan bahagia bulan-bulan selanjutnya Tangerang, Juni 2023