Penghujung September lima puluh tahun
silam
Gertak jahanam mengoyak sarang pribumi
Lakoni drama singkat nan sadis
Ratap tangis melengking
Rongrongan laras mencaci maki
Muka belakang
Rubuh raga
Regang nyawa!
Diceritakannya penangkapan hidup-hidup
Tuli rungu akan jerit pilu
Babak eksekusi
Puaskan dahaga bengis
Membayonet sana-sini
Bak seniman memahat karya seni
Pekat merah mengalir deras
Banjiri bumi pertiwi
Anyir mencekat hidung
Tawa seniman gila membahana
Lubang itu…
Terdiam merengkuh mayat-mayat
Pasrah kendati dihujani darah
Membisu di muka penyiksaan
Dekap sebongkah rahasia
Berkicau media antarkan cerita
Target-target operasi jadi buah bibir
Tangan dingin meramu kisah
Rekayasa dongeng penyiksaan
Temali informasi retas
Oleh belati tirani
Sejuta justifikasi terlahir
Menerka dalang peristiwa berdarah
Adakah saudara menikam saudara?
Kemudian sembunyi rupa di balik topeng
usang
Berkoar bak pahlawan kesiangan
Lalu diam-diam lari menungangi politik
Bagaimana kebenaran sejarah kan
terungkap?
Sedang yang di balik meja kuasa enggan
berucap
Biarkan anak bangsa telan asupan media
Tercecap manis berbumbu tipu muslihat
Hei Bung! Ini sejarah kelam bumi pertiwi
Bukan dongeng menjemput lelap
Yang bisa kau ubah susunan aksaranya
Demi hasratmu semata.
*mengenang 50 tahun G30S PKI
Yogyakarta, 24 Oktober 2015
Comments
Post a Comment