Aku menyeduh secangkir kopi subuh pagi ini. Aromanya persis
aromamu yang tersimpan dalam kantong paru-paruku. Warnanya cokelat pekat,
seperti kulitmu yang terbakar teriknya mentari. Rasanya… ah tak sanggup
kuungkap dengan kekata. Rasa kopi ini begitu nikmat seperti ketika kudengar
lantunan suaramu, ataupun serak tawamu. Begitu mencandu layaknya ketika
kutangkap arogansi di rautmu. Dan memabukkan bak menyaksikan kau menyingsingkan
lengan untuk menawarkan jasa tulusmu kepada mereka.
Kini kuhabiskan secangkir kopi bersama rindu yang terlarut
di dalamnya. Kelak, akan ada dua gelas kopi jadi saksi bisu cerita antara aku
dan kau. Kuharap suatu waktu nanti. J
Kolong Langit, 29112015
Comments
Post a Comment