Skip to main content

Teruntuk : Kedua Pahlawanku

Jatuh bangun menghadapi hidup
Mengumpulkan rupiah demi rupiah
Tanpa kenal ucap lelah
Tulus ikhlas tak kenal pamrih
Bermacam - macam ujian hidup tertamatkan
Bertahan agar tak terbawa arus dunia
Tak terhitung tawa tangis tercurah
Demi masa depanku, kata kalian

Kalian panutanku
Yang menopang saat ku jatuh
Memeluk ketika ku bersimbah air mata
Menghadirkan tawa kala ku dirundung duka
Mendukung di tengah kebimbangan hati
Melindungi dari segala racun dunia
Semua kalian lakukan
Demi seulas senyum di wajahku

Kini ku berdiri di tanah rantau
Terpisah ribuan kilometer
Rindu di dada biar kupendam
Berjuang menggapai cita, meraih kesuksean
Demi keharuman nama pahlawanku

Berjuta terima kasih kuhaturkan
Untuk segala pengorbanan kedua pahlawanku
Seberapa keras usahaku takkan mampu membalas semua
Kukirimkan sebait doa
Semoga Tuhan meindungi kalian selalu

Comments

Popular posts from this blog

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025

Maaf di Awal Bulan

Baru saja kita menutup Mei dengan tertawa Namun tanpa sengaja kubuka Juni dengan kecewa Hingga menutup gema suara-suara bahagiamu Yang harusnya rutin aku terima setiap waktu Jadi bagaimana kalau bunga ini kamu terima dulu sebagai pesan permintaan maafku?  Kemudian kita mulai lagi langkah baru untuk menutup dengan bahagia bulan-bulan selanjutnya Tangerang, Juni 2023