Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2017

Perihal Berbincang DenganMu

Bagaimana kabarMu yang menduduki semesta? Maaf jika aku masih jarang mengajakmu berbincang Terkadang lelap membawaku lari begitu saja hingga lupa berterima kasih atas dua puluh empat jam yang Kau titipkan . Juga ketika kubiarkan dingin membelai di awal hari hingga tak sempat ucap permisi menghabiskan waktu hingga berganti esok . Saat dihadapkan pada sepiring rezeki lagi-lagi aku tak ingat apa itu syukur Lambungku terkadang enggan menunggu sedikit lebih lama untuk dipenuhi . Bukan salah lelap, dingin, bahkan lambungku yang meronta sejatinya tak berdosa Namun hati enggan mengaku bahwa dialah kunci dari segala laku termasuk perihal berbincang denganMu . Mungkin aku terlalu angkuh untuk memanusiakan diri di hadapMu atau aku tak cukup nyali membuka rahasia paling kelam yang jelas-jelas Kau tahu? . Tunggu, biar kutamatkan doa yang belum terucap . Yogyakarta, 24 Januari 2017

Kau Bisa Menjadi Apa Saja

Kau bisa menjadi apa saja kopi yang menahan kantuk dekapan selimut di kala hujan atau hujan yang mencumbu dataran kering Kau bisa menjadi apa saja lagu yang membawa kenangan Novena sebelum lelap atau puisi yang ingin kutulis Kau bisa menjadi apa saja janji yang berkali-kali ingkar pesan singkat di awal hari atau waktu yang tepat untuk bersua kembali Kau bisa menjadi apa saja selama menerbitkan senyumku usai resah semalam memadamkan rindu yang lancang berkobar juga candu akan hadirmu lagi Kau bisa menjadi apa saja Yogyakarta, 15 Januari 2016

Lelaki dan Puisi

Kita pernah terjebak di sajak yang sama menapaki benih-benih yang tumbuh di pucuk Desember Hingga Januari menetas masih sajakmu yang melekat dalam kepala Pikirku, kamu puisi terakhir setelah tiga semester terbenam hasratku nyaris redup Sampai waktu mengantarkanmu di depan pintu dengan segenggam aksara seolah semesta berkata “ya” menjadikanmu judul serta titimangsa Nyatanya semua masih gurauan Lagi-lagi kau dibawa lari Jika aku menemukanmu di rumahNya sekali lagi ingin kuceritakan padaNya bahwa kamu, sudah cukup menggenapi Yogyakarta, 13 Januari 2017 Untuk seorang laki-laki yang berhasil menjatuhkanku ke dalam puisinya berkali-kali

Harga Diri atau Harga Mati

Bunda ... aku ingin bicara Sudah separuh jalan Menapaki tujuh puluh satu Namun sejahtera masih di balik angan Bercanda mesra bersama janji-janji palsu . Hati-hati mengucap kata Nduk! Jangan bersuara atau berteriak Kita berjalan di era yang berbeda Di mana langkah terbelenggu kaki Hukum berlatar keadilan, katanya ... . Lambung menangis minta diisi Sedang harga angkat kepala enggan kompromi Ditambah upah terus-terusan revisi Dalam kepala bertanya cukup beli apa nanti? . Bertanya tentang harga, Nduk? Kita hanya punya harga diri yang berpatok harga mati! Kemiskinan mengajarkan kita tentang kerja keras demi harga diri Kelaparan berasal dari kejujuran itu harga mati . Mata terjaga, nurani entah Sebab yang di atas terlalu pongah Biarkan yang di bawah meringis pedih Ah ... fluktuasi harga memang sadis . Sudahlah si Nduk! Jangan menatap ke atas matamu tak dapat bermimpi Usah berkata apa-apa, nanti terkurung terali besi Mereka lupa bahwa langit masihlah ada lagi lang...

Eskalator Menuju Ikhlas

ragaku di sini, pikiran entah ke mana dalam keramaian hati dilanda sepi mencoba mencari belahan hati yang menghilang ditelan hari lalu di tumpukan obralan pakaian cuci gudang dan, kucoba bertanya pada spg mall malah ditawari hatinya untuk aku isi - pikiran sewrawut, hati resah dan risau bingung apa yang mau kubeli tiada barang menarik, kecuali senyumanmu yang semanis diskonan tinggi dan, parasmu barang mewah yang tak dapat kubeli dengan rayuan yang biasa saja namun butuh lembaran kesetiaan agar mendapatkan hatimu kembali - ini ada di lantai berapa ruang apa dan di mana mataku gelap dibutakan oleh namamu saja - sementara waktu tertawa sendiri mencela hati yang dibungkam sepi sebab kemarin bersenandung move on nyatanya masih bengong bermuka pilon - ke sana ke mari mencari dekapmu di belakang senyum pedih manekin dalam tempat sampah restoran mahal bahkan, di sudut kloset yang tak lagi bau tak juga kudapatkan sebaliknya, aku yang kecopetan lenyap perasaan ...