Bagaimana kabarMu yang menduduki semesta? Maaf jika aku masih jarang mengajakmu berbincang Terkadang lelap membawaku lari begitu saja hingga lupa berterima kasih atas dua puluh empat jam yang Kau titipkan . Juga ketika kubiarkan dingin membelai di awal hari hingga tak sempat ucap permisi menghabiskan waktu hingga berganti esok . Saat dihadapkan pada sepiring rezeki lagi-lagi aku tak ingat apa itu syukur Lambungku terkadang enggan menunggu sedikit lebih lama untuk dipenuhi . Bukan salah lelap, dingin, bahkan lambungku yang meronta sejatinya tak berdosa Namun hati enggan mengaku bahwa dialah kunci dari segala laku termasuk perihal berbincang denganMu . Mungkin aku terlalu angkuh untuk memanusiakan diri di hadapMu atau aku tak cukup nyali membuka rahasia paling kelam yang jelas-jelas Kau tahu? . Tunggu, biar kutamatkan doa yang belum terucap . Yogyakarta, 24 Januari 2017
hidup ini seperti kopi, pahit-manis panas-dingin semua teraduk dalam sebuah cangkir. jika kopi tersebut tumpah pilihanmu hanya 2 : meratapi tumpahan tersebut atau membuat kopi yang baru :)