Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2016

Jatuh dalam Matamu

Aku terjatuh Sangat perlahan tanpa gaduh Hingga tak kuasa ku mengaduh . Dan aku kerasukan candu Kala pupil kita beradu Mulai bertukar rindu . Aku kini mengerti Sebab aku tersungkur kembali Mendarat dalam retinamu lagi . Yogyakarta, 29 Februari 2016

Bubur Kacang Hijau

Bubur kacang hijau merasuki pagi  nan gigil Di sudut meja mengisi sepi Sesekali menguar sapa lewat aroma . Barangkali tuan sudi mampir Menggali kehangatan dengan sebatang sendok Atau mengusir lapar yang singgah sejak dini hari . Bubur kacang hijau bernasib malang Rupanya tuan tiada bertandang Sebab malam tadi ia tak pulang . Yogyakarta, 29 Februari 2016

Tanya-tanya

Sepotong rasa kini latah Pemiliknya pun entah Mungkin asyik berkelana Dalam malam-malam tanpa warna . Nyatanya dia meredam gebu Dalam labirin abu-abu Putar balik dia enggan Jika laju akankah aman? . Lautan terka tak bergaram Mungkin dia akan karam Sambil menyimpan satu tanya Dapatkah semua tetap dalam genggamnya? . . Yogyakarta, 22 Februari 2016

Ampas Kopi

Tamu Bertandang

Pekan yang lalu hitamku memudar bukan menjelma kelabu melainkan suatu semburat merah jambu Dan pekan ini hitamku lenyap terhempas jauh oleh si merah Ah ... Risauku berujung sudah sebab musabab sensitifitas meratu merengek manja minta ini-itu Sana-sini jadi sasaran egosentris sampai aku lelah sendiri Kini aku menikmati menjadi tawanan lara Dalam periode berjalan ketika tamu datang bertandang Tangerang, 17 Februari 2016

Jika

Don't You Know?

Cari Aman

Rerintik masih menyimpan tanya Tentang mengapa bagaimana Kau sembunyi dalam sunyi Sedang gaduh sibuk berbunyi . Berlalu hujan wariskan senyap Menelan kekatamu yang tak jua hinggap Gejolak amarah dalam-dalam kusiman Sebab bungkammu hanya tuk cari aman . Tangerang, 14 Februari 2016

Sebentar Kemudian

Sebentar kemudian tak lagi kudengar rentetan dinding berkisah tentang yang lampau. Kopi yang kusesap di masa mendatang nanti tak akan senikmat saat ini. Dan sendu senja yang membelai mata tak lagi kudapat di kemudian hari. Tangerang, 16 Februari 2016

Hitam-Putih-Abu

Pertengahan bulan kedua ini selalu dihiasi semburat merah pun jua merah muda. Kata mereka ini masanya berbagi kasih sayang. Di mana para pecinta sibuk berkasih dengan kekasihnya. Hari di mana bunga bermekar di sudut kota ini. Diikuti sebatang hingga selusin cokelat yang katanya sebagai pemanis hari kasih sayang. Hampir tiga dasawarsa kulalui denganmu, tak terpikir sedikitpun turut berpesta pora merayakan hari yang mereka bilang hari kasih sayang. Menggenggam tanganmu sejauh waktu merotasi sudah cukup untukku. Menjadi rumah tempat melabuhkan segala resah dan pasrah pun aku bahagia. Sebab manis yang kucecap bukan pada sebatang cokelat, melainkan dalam senyummu yang mampu memikatku berkali-kali. Tak butuh merah terang dalam kelopak mawar, sebab cukup merah gincumu yang menyala tiap pagi. Tak perlu jua merah muda sebagai pemanis pada sebatang mawar ataupun sebatang cokelat. Karena merah muda ku telah kutemukan dalam semburat di pipimu. Dan kasih sayang kita bukanlah merah, merah mud...

Happy Valentine!

PENANTIAN SEPHIA #Fm

Jam dua belas sudah berlalu dua jam yang lalu. Sephia menggerutu karena tak biasanya "dia yang ditunggu" datang terlambat. Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu tiga kali. Sephia bergegas membuka pintu. "Kau ..." rautnya seketika memucat. Tangerang, 13 Februari 2016

Sephia - Balada Sephia #Lagu_dan_Puisi

SEPHIA -Sheila on 7- Hey,Sephia Malam ini ku takkan datang Mencoba 'tuk berpaling sayang Dari cintamu Hey,Sephia Malam ini ku takkan pulang Tak usah kau mencari aku,demi cintamu Hadapilah ini Kisah kita takkan abadi [Chorus:] S'lamat tidur kekasih gelap ku(ooo.....Sephia) S'moga cepat kau lupakan aku Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk melupakanmu S'lamat tinggal kasih tak terungkap (ooo.....Sephia) S'moga kau lupakan aku cepat Kekasih sejatimu takkan pernah sanggup untuk meninggalkanmu Hey, Sephia Jangan pernah panggil namaku Bila kita bertemu lagi Dilain hari Hadapilah ini Kisah kita takkan abadi * sumber lirik lagu :  http://www.azlyrics.com/lyrics/sheilaon7/sephia.html . . . . BALADA SEPHIA -Angelina Maria Meo- Barangkali akulah sephiamu kau dekap sebelum lelap kau lepas menjelang sadar Menjelang pagi aku masih bergulat dengan hati yang sibuk memfilter dosa-dosa sisa malam temaram Pagiku kini sehitam ...

Membungkus Rindu

Aku membungkus rindu dalam butiran hujan Barangkali jatuh di berandamu Atau di sudut bajumu Atau di helaian rambutmu Dan ketika tubuhmu basah ditampar hujan Aku sadar Ternyata rinduku seterlalu itu! Tangerang, 8 Februari 2016

Debat Hujan dan Kopi

Imajiku Berpulang Padamu

. . . . . Lokasi : Waduk Sermo, Kokap, Kulon Progo, D.I. Yogyakarta

-quote-

Rumah Tak Berpilar

Rumah Paling Getir

Tubuhmu adalah rumah paling getir. Tiada ledakan sukacita dalam dada. Tak jua suburnya asa menggeliat di dataran jiwa. Sementara kobar amarah masih membakar isi kepala. Tubuhmu adalah rumah paling getir. Sebab seribu satu malam dihujani dengan bombardir. Hingga kami lari telanjang menyingkir. Hakikatnya kami pulang, menjelma jadi kaum terbuang. Tubuhmu adalah rumah paling getir. Setelah dinodai habis-habisan oleh Tuan Kikir. Digenggamnya tubuhmu erat, kemudian diarak-arak dengan senyum bejat. Tubuhmu adalah rumah paling getir. Sebab kini hanya berselubung sepotong kain khawatir. Memantik nyala-nyala api dalam bola mata. Tunggulah hingga dapat kembali kudekap tubuhmu penuh cinta. Tangerang, 6 Februari 2016 *Terinspirasi dari Buku E. Rokajat Asura – Kupilih Jalan Gerilya (Roman Hidup Panglima Besar Jendral Soedirman)

Hati Hati

Katamu hati-hati meniti Aku harus teliti Atau kena ranjau nanti Kemudian mati Hati-hati hati-hati Ucapmu penuh arti Teka-teki tak pasti Tak tahu jawabnya nanti Hati ke hati? Tawa menggema tanpa henti Kita lihat saja nanti Lagi-lagi hati-hati Bisa kau berhenti? Lakumu buatku enggan buka hati Tangerang, 5 Februari 2016