Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2016

Langit Hujan Tangerang

Dalam lipatan payung tersimpan nasib Lalu kugadai di ujung rupiah Kendati gigil terus menyetubuhi tanpa jeda Tak sekalipun kulayangkan gugat Sebab aku telah berserah dalam dekapnya Tuhan, hukumlah langit sekali lagi Dengan cambukMu nan menggelegar Hingga rebas tangisnya Sebab rupiah dalam saku belum cukup Untuk menebus nyeri di lambung Tangerang, 31 Januari 2016

Lembah Nista

Berselubung sepotong kain tak layak Menari-nari gincu pijaki bibir Surai hitam turut serta naungi elok rupa Tiada ragu kulangkahi hening dalam gelap Lirikan maut, memantik kobar asmara Yang berakhir di sudut remang-remang Setumpuk rupiah tergenggam, transaksi usai! Kulumat senyuman getir dalam diam Mengutuk goresan cerita nan malang Ahh.. nuraniku redup sudah Terpaku dalam kejinya jeruji realita Urusan perut enggan tuk menunda Kurebahkan raga pada jejak-jejak waktu Hingga jantung malam tak lagi berdetak Berharap lepas dari lembah nista Yogyakarta, 13 Oktober 2015

Tikam

Aku diam kau tikam Aku bersuara kau tikam Aku tertawa kau tikam Aku menangis kau tikam Aku sendiri kau tikam Aku dengannya pun tetap kena tikam . Kemudian aku meraung-raung dari balik tikam paling kejam Mengutuki tikamtikam selanjutnya yang lebih dalam Kendati telah reda geram pangkal segala tikam Masih kau menabur garam pada lubang bekas tikam . Aku meronta lemah di penghujung tikam Barangkali maut kan memutus segala tikam . Tng, 30012016

Selimut Hijau

Di tengah batas waktu dia mulai merebah Pada jiwa-jiwa pemilik rindu yang tersembunyi dalam raga sepasang anak manusia Rapatkan saja, pembaringan ini hanya untuk dua orang Tangerang, 29012016

Puisiku Entah

Aksaraku rubuh Berbaur dengan segudang keluh Sebab tiada tempat tuk berlabuh Sajakku sekarat Tak sanggup lagi tergurat Cobaan yang menimpa terlalu berat Rasaku ingin menyerah Puisiku kini entah Dibawa lari peristiwa bedebah Tangerang, 25 Januari 2016

Ini Sejarah Bangsa Bukan Dongeng Sebelum Tidur

Penghujung September lima puluh tahun silam Gertak jahanam mengoyak sarang pribumi Lakoni drama singkat nan sadis Ratap tangis melengking Rongrongan laras mencaci maki Muka belakang Rubuh raga Regang nyawa! Diceritakannya penangkapan hidup-hidup Tuli rungu akan jerit pilu Babak eksekusi Puaskan dahaga bengis Membayonet sana-sini Bak seniman memahat karya seni Pekat merah mengalir deras Banjiri bumi pertiwi Anyir mencekat hidung Tawa seniman gila membahana Lubang itu… Terdiam merengkuh mayat-mayat Pasrah kendati dihujani darah Membisu di muka penyiksaan Dekap sebongkah rahasia Berkicau media antarkan cerita Target-target operasi jadi buah bibir Tangan dingin meramu kisah Rekayasa dongeng penyiksaan Temali informasi retas Oleh belati tirani Sejuta justifikasi terlahir Menerka dalang peristiwa berdarah Adakah saudara menikam saudara? Kemudian sembunyi rupa di balik topeng usang Berkoar bak pahlawan kesiangan Lalu d...

Sebuah Nama

Satu kata Terhempas dalam ruang hampa Berselubung madah padaNya Mendekap hangat sebutir asa Terukir dalam syahdu munajad Baris-berbaris abjad Nyata bertinta iktikad Diakhiri tanda baca berupa tekad Goresan nama mahkota kalbu Bertahtah di atas hina debu Memudarkan kelabu Hingga menjelma abu Yogyakarta, 11 Desember 2015

Netra

Jangan dulu kau rapatkan Hasratku masih ingin menerka Elokmu di balik lentiknya helaian Dari pantulan cermin di muka Bersamamu sejak awal mula penciptaan Satu arah dalam menelaah tiap sudut Menyaratkan emosi sepadan Tak ditakdirkan bersatu walau rasa tertaut Yogyakarta, 22 Juni 2015

Cerita di Balik Tabir Maya

Dini hari Aku dan kau masih di sini Di balik layar terpatri Lalu kita berbincang Tentang sisi yang timpang Juga tentang asa di waktu mendatang Kau meramu masa depan dengan ilmu di genggaman Aku sibuk melukis hari dengan berjuta warna-warni mimpi Dan kemudian mengalir sejuta alasan mengapa lelap tiada berkenan Katamu pelawak itu menahan kantukmu Sedang aku tertawan barisan kekata baku Kau pinta rendalah bunga tidur namun puisiku belum gugur Kemudian kau minta diri menutup indahnya hari harap mengintip larik-larik ini esok hari Tangerang, 22 Januari 2016

Guling di Tepi Ranjang

Sudah sewindu Berbagi girang sendu Pun jadi pelampiasan rindu  . Dilema guling suatu malam Diabaikan setelah padam  Jadilah ia muram  . Guling tergugu di tepi ranjang Nyaris ditendang  Sebab pemiliknya baru melepas lajang  . Tangerang, 21 Januari 2016

Selamat Jalan

Lenyap  Terngiang  Senyap Kukenang . Aksaramu yang hinggap di berandaku punah Terlumat habis realita Entah dari mana kuawali resah Pergimu buatku bungkam kata . Lalu kutelusuri jejak-jejak Harap hasrat berpijak Lagi-lagi aku terhenyak Kau telah jauh beranjak . Selamat jalan kawan aksara Kendati kalbu remuk Dihajar berjuta tanya Izinkan sebait doaku memeluk . Tangerang, 13012016 . . . Didedikasikan untuk sahabat aksara alm. kak Darwin Anggoro walaupun saya tidak kenal kakak, selamat jalan semoga mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan O:)

Surut Berpasrah #Kolaborasi_Puisi

Syaratku mati Terkubur dalam denyut nadi Biar reinkarnsi jadi api Yang memantik rupamu dalam sanubari Benakku tinggi Rangkul rembulan tak bertubuh Hanya janji terpatri Tetap cahayanya bukan hanya milikku Kau lempar waktu jauh-jauh Agar waktu kita tak tersentuh Tiada setitik luh Kendati kuingin mengaduh Waktu berubah Detik mengubah Manis selimut rubah Candu bibir membentuk bah Retak sudah Timbulkan celah Lalu kau rajam panah Harap hatiku enyah Ujung berpasrah Derap senja serah Inginmu bukan mauku Maumu tak untukku Kau tarik garis akhir Hingga lahir sebuah spasi Entah apa mau sang takdir Aku undur diri Yogyakarta-Boyolali, 6 Januari 2015 Kolaborasi puisi antara Angelina Maria Meo & Syarief Basoeki Effendi . . . *Terinspirasi dari lagu Yovie&Nuno - Tanpa Cinta

Lelaki Bermata Puisi

Barangkali Puisiku meredup di balik kelopak netramu  Yang perlahan membuka Hingga dapat ku bercermin dalam kedua bola mata  demi berjuta pantulan larik  Alis bertaut memahat judul  Titimangsa tak jua tampak Sampai waktu kau teteskan luh Kau lelap Puisiku lenyap Kau sadar Puisiku berdebar Yogyakarta, 5 Januari 2016