Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2015

Lilin Pertama

Satu dari empat pilar mulai menyala Lahirkan asa baru dalam atma Setelah tutup liturgi tahun lalu Kini, sebatang lilin mengawali hari baru Bergegas masuki kediamanNya Menutup mata, merapal doa Panjatkan untaian syukur Hapuskan khilaf yang terlanjur Lilin pertama berpendar Memanggil jiwa-jiwa yang kerontang Hingga semua umat tersadar Bahwa Juru Selamat telah datang Marilah berhimpun di altarNya Bermadah puji tulus dari sanubari Kelak tiba waktunya kita sigap Sambut Tuhan dalam putihnya hati Amin. Yogyakarta, 29 November 2015

Kopi Subuh

Aku menyeduh secangkir kopi subuh pagi ini. Aromanya persis aromamu yang tersimpan dalam kantong paru-paruku. Warnanya cokelat pekat, seperti kulitmu yang terbakar teriknya mentari. Rasanya… ah tak sanggup kuungkap dengan kekata. Rasa kopi ini begitu nikmat seperti ketika kudengar lantunan suaramu, ataupun serak tawamu. Begitu mencandu layaknya ketika kutangkap arogansi di rautmu. Dan memabukkan bak menyaksikan kau menyingsingkan lengan untuk menawarkan jasa tulusmu kepada mereka. Kini kuhabiskan secangkir kopi bersama rindu yang terlarut di dalamnya. Kelak, akan ada dua gelas kopi jadi saksi bisu cerita antara aku dan kau. Kuharap suatu waktu nanti. J Kolong Langit, 29112015

Dalam Diamku

Setelah usai kutelanjangi kau lewat netra Perlahan kutelusuri lekuk-lekuk rasamu Berharap menggamit satu makna Ah... tuan tak jua terjamah keangkuhan di balik senyummu Sekian waktu tak kunjung padam kobaran asa yang membakar sukma Kendati percikan rindu menggerogoti hati merambat sentuh isi kepala Hingga kini aku terbakar jadi abu Kamu pemantik rasa menderai tawa dalam laraku Sedang aku terpenjara dalam enigma yang kau cipta Yogyakarta, 29 November 2015

Tanpa Restu

Aku dan kamu penghamba pangestu Dalam dinasti keangkuhan era baru Terpenjara dalam jeruji tanda tanya Menelusuri jawaban berakhir koma Setelah jauh aku kau berjalan Menelusuri panasnya aspal realita Menantang derasnya hujan caci maki Demi menjaga sepotong janji Pada akhir yang mereka sebut bahagia Namun apalah dayaku Saat kau mengangguk patuh Pada titah kejam sang ratu Untuk mematikan cintaku Dan membuang bangkainya Di sudut masa lalu Biarlah Aku melambung dalam khayalmu Memaku manisnya cerita di sudut bisu Suatu waktu jika kau rindu Bukalah Memori usangmu Sebab aku selalu ada Dalam ingatanmu Yogyakarta, 27 November 2015

Bunga Tidur

Tentang Rindu Putih Abu-abu

Terima kasih patut kuucapkan pada teknologi yang berjasa dalam menyimpan cerita kita. Beberapa waktu lalu, tawa kalianlah yang mengisi hariku, jua tangis kalianlah yang mengusik kalbuku. saat itu kita berlomba menggantung angan di ujung doa. Berharap jemari takdir menggenapi segalanya. Rotasi waktu terlalu kejam menghentikan semua. Realita memaksa kita menuruti kata hati masing-masing. Langkah kaki teriring bersama janji untuk kembali. Sedang hati terus menghitung pergantian hari, hingga kita diizinkan bersua lagi. Jogja, 21 November 2015

Si Rakus

Naskah dikarang tanpa hitam putih  Kami pentaskan penuh rintih Urat nadi nyaris retas Penonton tertawa; ekornya tegak ke atas  Haruskah kuracik racun pembasmi tikus? Agar hilang nyawa si rakus . Jog, 10112015

Mataku Matamu

Mataku matamu bertaut Melepas segala kemelut Sinar matamu meredup  Padamkan gairah hidup Mataku matamu bertemu Ada nelangsa di sana Tergurat pula jemu Matamu, lukisan merana Mataku matamu bersatu Kutemukan seberkas binar  Ahh... rupanya mata kita tiada berjumpa  Matamu menangkap bidadari itu Mataku matamu   Mata - mata tanpa transaksi rasa Yogyakarta, 10 November 2015 -angelinaamm-

Salah

Bintang timur enggan kembali  Di kaki langit memaku diri  Hingga cakrawala legam Dia turut terdiam Hakikatnya semua salah Bintang timur enggan mengalah Hasrat ingin dipeluk malam Apa daya, nyatanya haram Salah salah salah Mencinta malam jelas salah Yang ada menentang waktu  Demi paksa cinta jadi satu Yogyakarta, 9 November 2015 -angelinaamm-

Panggung Sandiwara

Barangkali … Panggung sandiwara tak cukup luas Untuk dapat kupijak Demi selarik dialog terlafal Barangkali … Narasi ini masih teka-teki Ujungnya pun belum hakiki Pelakon utama sesuka hati; kau Aku; tersisih menghamba waktu Atau biarkan saja narasi ini mati Tak usah kau hidupkan lagi Sebab aku telah samar Aku tabu Dalam cakapmu Yogyakarta, 9 November 2015 -angelinaamm-

Aku Kamu Berpadu

Jantung kota berdebar petang itu Kala aku dan kamu berpadu dalam rindu Susun strategi membunuh waktu Demi lanjutkan sepotong cerita lalu Aku kamu bersila disudut kelam Mainkan lakon tanpa naskah dikarang Disaksikan dua gelas kopi hitam Joss! desahnya kala dicumbu arang Dua ikat nasi turut serta Geletak pasrah pinta dimangsa Kamu terus lontarkan kata Aku tangkap dengan penuh rasa Legam mega memanggil pulang Setengah hati ingin tinggal Mengulum kembali cerita yang hilang Lewat sisa kopimu yang tlah tanggal Yogyakarta, 7 November 2015 -angelinaamm-

SENDIRI #Patidusa_Tangga

Mengais puing cerita lalu Remuklah serpihan asa Terkunci raga Bisu Sendiri renangi samudera waktu Kendati terseret ingkar Kuterjang prahara Teguh Renjana terkubur tanpa nisan Dalam rongga sanubari Kaku membiru Terdiam Sekali waktu datang kembali Bersama seikat janji Hempas saja Biarkan! Yogyakarta, 2 November 2015

Terbelenggu Kewajiban

Otot-otot netra menegang Terlalu asyik mendekap layar kaca Sesekali mencuri pandang diktat di sebelah Apakah itu? Rangkaian kata dari insan yang dipanggil ilmuwan Menyusuri perihnya kontraksi rahim kendala Demi lahirnya sebuah teori yang dikumandangkan lewat rungu maupun aksara Ataukah hanya larik-larik tanpa makna yang berbaris rapi dalam serat kayu Satu dua helai bertemu Hingga seribu, bersatu dalam jilid Haruskah kulumat habis kicauan orang-orang cerdas? Kemudian memuntahkanya di lembar-lembar kewajiban Bersama potongan buah pikir di ujung sekarat Atau kunikmati saja rintihan otak kiri yang sedang mengais nikmat Dalam belenggu keharusan di hamparan Sabtu sendu Yogyakarta, 31 Oktober 2015 -angelinaamm-