Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2015

Wanita yang Kupanggil Mama

Sembilan bulan berlindung dalam rahimmu Bergantung hidup pada seutas plasenta Maut menyerah bergelut denganmu Kala generasi baru tiba di depan mata Tuturmu bagai senandung nyanyian Bibir terlengkung indah atas rengekan Retina penuh cemas menangkap bayangan Bidadari kecil dalam rangkulan Dua dasawarsa sudah terlewatkan Bidadari kecil kini telah dewasa Mengepakkan sayap – sayap kehidupan Tiada gentar menantang bayu perkasa Kertas yang ternoda menjadi saksi bisu Goresan tintapun seolah bersuara Barisan puisi ini tak seindah paras mu Wanita yang kupanggil mama -angelinaamm-

Pena

Aku menari di atas dataran putih Menyampaikan emosi tanpa suara Merangkai kata beserta asa Hingga aksara berderet penuh makna Aku pindah ke dataran lainnya Lagi - lagi untuk menari Mencurahkan buah pikiran sang sutradara Hidupku tergantung padanya Aku masih menari Menari di atas kesedihan Bergerak bebas di antara kebahagiaan Sampai titik darah penghabisan Aku mulai lelah Perlahan tubuhku sekarat Aku kehilangan banyak darah Ku ikhlaskan diriku tergantikan -angelinaamm-

Kegelisahan Malam

Senyap Tanpa gemerlap Semua lenyap Dalam gelap Dia terdiam Inderanya kram Wajahnya kelam Hatinya tak tentram Dia setia bermain tunggal Tiada sudi dikawani kerlipan Napasnya satu - satu tersenggal Menahan kegelisahan Malam berbisik, "Aku ingin sendiri, hingga datang fajar" -angelinaamm-

Untukmu : Sosok Tak Tersentuh

Apa kabar Pangeranku yang selalu bertanding di depan layar? Aku harap kamu masih tersenyum dan tertawa seperti saat terakhir ku melihatmu. Apa yang sibuk kau perbuat sekarang? Masih sama seperti yang dulukah? Atau kau mempunyai kesibukan baru? Maaf jika aku terlalu banyak bertanya, aku hanya terlalu ingin tahu keadaanmu sekarang. Setahun sudah kita tiada bersua. Jangankan bersua, pesanku yang tak terbalas olehmu tak terhitung lagi jumlahnya. Aku bagaikan angin lalu di matamu, hanya sekejap lalu terabaikan. Kamu tahu kan, apapun yang menyangkut soal perasaan bukanlah sesuatu yang bisa dipaksakan. Yang kurasakan saat ini sungguh bukanlah inginku, aku tak bermaksud mengusikmu dengan perasaan ini. Perasaan ini tumbuh dengan hebatnya tanpa kuminta. Merambat hingga ke relung jiwa. Tanpa dipupuk perhatian, tanpa disiram balasan, perasaan ini masih hidup dan nyata. Berulang kali kucoba untuk mencabut perasaan ini hingga ke akar- akarnya. Atau membakar habis semuanya hingga tak meninggalk...

-

Terjaga di dini hari Masa lalu bermain di memori Jantung berdebar tiada henti Peluh deras membasahi Rasa itu sungguh nyata Menikam ke dalam sukma Menimbulkan nelangsa Aku mati rasa Aroma tubuhmu terendus olehku Pelukmu semakin mengetat Napasmu kian memburu Di keningku kecupanmu mendarat Imajinasi ini terlalu mengerikan Akal sehatku hampir hilang dibuatnya Bisa tolong hentikan? Rindu ini cukup menyiksa -angelinaamm-

Teruntuk : Kedua Pahlawanku

Jatuh bangun menghadapi hidup Mengumpulkan rupiah demi rupiah Tanpa kenal ucap lelah Tulus ikhlas tak kenal pamrih Bermacam - macam ujian hidup tertamatkan Bertahan agar tak terbawa arus dunia Tak terhitung tawa tangis tercurah Demi masa depanku, kata kalian Kalian panutanku Yang menopang saat ku jatuh Memeluk ketika ku bersimbah air mata Menghadirkan tawa kala ku dirundung duka Mendukung di tengah kebimbangan hati Melindungi dari segala racun dunia Semua kalian lakukan Demi seulas senyum di wajahku Kini ku berdiri di tanah rantau Terpisah ribuan kilometer Rindu di dada biar kupendam Berjuang menggapai cita, meraih kesuksean Demi keharuman nama pahlawanku Berjuta terima kasih kuhaturkan Untuk segala pengorbanan kedua pahlawanku Seberapa keras usahaku takkan mampu membalas semua Kukirimkan sebait doa Semoga Tuhan meindungi kalian selalu

Tiga Sudut

Mengalir lagi dari pelupuk Setetes curahan perasaan tak terbentuk Tak pasti kepada siapa hati ini teruntuk Batin serasa ingin mengutuk Hanya sebuah tanda tanya Mengapa harus dia Yang telah digenggam tangannya Dan terikat janji sampai akhir masa Apakah indahnya tiga sudut Jika bahagia harus terengut Emosi kian tersulut Yang ada hanya adu mulut Membuat hati tercarut marut -angelinaamm-

Hari Ini

Dua dasawarsa? Sesegera inikah? Entahlah, aku masih tak percaya Membelalakkan mata dan ternganga Seolah ini hanya lelucon semata Waktu berjalan begitu cepat Tak terasa semakin dekat Dan kini hadir di depan mata tepat Menyiratkan semua terlalu singkat Sudah pantaskah aku kini? Dengan setumpuk ego dalam diri Luapan emosi seringkali tanpa kendali Caci maki terlontar tanpa permisi Pikiran buruk menguasai Siapkah aku? Dengan setumpuk tugas yang menunggu  Menanti untuk kuampu Kutuntaskan tanpa menggerutu Syukurku ucapkan padaMu Tuhan Atas 365 hari baru di kehidupan Kau percayakan ku untuk menjalankan Segala tanggung jawab di depan Ku yakin Kau tak pernah meninggalkan -angelinaamm-

Lelah

Entah apa yang terpikir dalam benakmu Bermain drama tiada henti Berganti peran setiap hari Berdialog seolah kau paling benar Meratap nasib kaulah yang paling malang Kamu, entah bagaimana dulu mampu membuat terpikat Menarikku dalam duniamu Menghadirkan warna dalam hidupku yang hampa Menciptakan tawa di tengah tangis Sosokmu seolah tanpa cela Setelah mendapatkanku terungkaplah semua Kau mulai berdrama Tiada hari tanpa sandiwara Berperan sesuka hatimu Kau benar, aku salah Kau protagonis, aku antagonis Apakah berdrama mampu menghapus dahagamu? Apakah kau candu akan bermain peran? Tak tahukah kau aku sudah lelah? Lelah berpura-pura seolah aku bahagia Lelah terus-terusan kau sulut emosinya Lelah kau sudutkan seolah kau yang paling menderita Lelah dipermainkan di panggung sandiwaramu Kita tiada berjarak tapi terasa asing Kuberi jarak kau rengkuh kembali Meminta untuk tetap tinggal Dengan sejuta alasan kau tahan aku Mengurungku dalam permainanmu Menjanjikan semu...