Skip to main content

Hai, Pujilah - Bunda Penebus #Lagu_Puisi

Lagu
Judul : Hai, Pujilah
Oleh :Syair = Antonius Soetanta, SJ 
           Lagu  = Jubilate 1970

Hai, pujilah segala bangsa, Maria Bunda Penebus. Tak ada mahluk yang mulia sebagai Bunda yang kudus. (Reff)
Ya, hati Bunda yang tersuci, teladan bagi hidupku, semoga anakmu selalu seperti sinar hatimu. (Reff)
Jikalau jatuh dalam dosa, dan padam sinar jiwaku, semoga kami kau antarkan kepada Yesus ,putramu. (Reff)

Reff (1-3) :
O ingatlah, ya Bundaku, doakan kami, anakmu. O, ingatlah, ya Bundaku, doakan kami anakmu.

Sumber lagu : Puji Syukur no 638
. 
.
.
.
.
Puisi
Judul : Bunda Penebus
Oleh : Angelina Maria Meo

Puji-pujian terlantun dalam hati tiap insan
Menggema engkaulah Mahluk yang Mulia
Kudus nan terpilih sebagai Bunda Penebus

Putih hatimu tanpa jelaga dosa
Terbitkan seberkas sinar terang  di lorong kehidupan
Yakinkan aku tuk menapaki jalan kebenaran
Hingga terpancar kilau cahaya kalbumu

Bunda Penebus, rengkuhlah aku kala kuterpijak dosa
Yang menyamarkan pendar-pendar nurani
Sesatkan diri dalam kubangan dusta
Sudilah kau tunjukkan jalan kembali pada Yesus, putramu

Bunda Penebus, lafalkanlah namaku dalam doamu.
Agar kelak mampu kuberdiam dalam Kerajaan Puteramu.
Amin.


Yogyakarta, 16 Oktober 2015 

Comments

Popular posts from this blog

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025

Maaf di Awal Bulan

Baru saja kita menutup Mei dengan tertawa Namun tanpa sengaja kubuka Juni dengan kecewa Hingga menutup gema suara-suara bahagiamu Yang harusnya rutin aku terima setiap waktu Jadi bagaimana kalau bunga ini kamu terima dulu sebagai pesan permintaan maafku?  Kemudian kita mulai lagi langkah baru untuk menutup dengan bahagia bulan-bulan selanjutnya Tangerang, Juni 2023