Kutatap langit – langit yang siap sedia menaungi dari panas
dan hujan kini semakin menipis tergerus waktu. Pilar – pilar kekar setia menyanggah
tegapnya bangunan sederhana ini. Dinding bercat orange pun masih setia
menyelimuti bangunan ini dari dunia luar. Keramik yang mulai hilang kilaunya
seolah bertahan dipijak nara – nara penghuni bangunan sederhana ini.
Sesekali terdengar suara membentak, berteriak, bahkan canda
tawa pun menguar dari bangunan itu. Tempat tinggal yang sudah puluhan tahun itu
menjadi saksi bisu segala peristiwa penting. Bertemunya dua sejoli, hingga
lahirnya malaikat – malaikat kecil yang memberi warna pada rumah itu. Seiring
waktu, kedua sejoli itu menua dan ketiga malaikat kecil mereka beranjak dewasa,
rumah ini masih setia melindungi dari sentuhan jahat dunia luar.
Adakah yang lebih
mewah dari kesederhanaan yang berbalut rasa syukur? Apa yang lebih
membahagiakan dari menapaki tahap – tahap hidup bersama orang terkasih?
Bagaimana mungkin aku menukar semua pundi –pundi nurani yang kukumpulkan di sini dengan gelimang
harta duniawi?
Kepadamu bangunan kokoh berpayung sang mega. Sudilah dinding
–dindingmu mendengar lantunan syukur dan terima kasih padamu. Atas jasamu yang
begitu tak terhingga seumur hidupku. Kenyamanan dan kemanan yang tak kan
kudapat dari dunia luar. Kesediaan untuk menerima kepulangan manusia – manusia
perantau. Dan tempat berkumpulnya beberapa orang yang kusebut keluarga.
Kelak ketika belahan jiwaku bertandang dalam nanunganmu,
meminta restu kedua orang tua dan kedua adikku, kau akan jadi saksi bisu suatu
peristiwa besar. Dan ketika dia mengajakku untuk beranjak dan membangun bahtera
rumah tangga kami, kau kan selalu jadi tempatku berpulang. Kau akan selalu jadi
rumah yang kurindukan kehangatannya.
-angelinaamm-
Comments
Post a Comment