Skip to main content

Lewat Aksara

Aku hanya mampu meraba ukiran rupamu lewat sebait aksara. Menorehkan lukisan rasa yang mendalam lewat goresan pena. Dan menumpahkan segala kerinduan pada secarik kertas.
Kamu, ya kamu yang siang malam diam- diam menyusup ke pikiranku. Menebarkan aroma tubuhmu di setiap udara yang kuhirup. Menyenandungkan syair indah di runguku.
Kamulah yang sejak hari itu mendiami hatiku. Mengisi tiap sudutnya dengan benih - benih rindu. Tanpa kamu tahu bahwa setiap hari  kuhujani benih itu dengan air mata dan kupupuk dengan asa yang berlabuh padamu.
Dan kini,rasa itu merekah indah di dasar sanubari. Memukau setiap netra yang menatap. Kecuali sepasang netramu. Ya, karena sepasang netramu begitu terpaku terhadap bidadari di seberang lautan. Hingga ku di depan mata tak kau tengok.
Kini larik - larik aksara dalam sehelai kertas telah bias. Butir bening tengah menenggelamkannya di lautan nestapa


-angelinaamm-

Comments

Popular posts from this blog

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025

Maaf di Awal Bulan

Baru saja kita menutup Mei dengan tertawa Namun tanpa sengaja kubuka Juni dengan kecewa Hingga menutup gema suara-suara bahagiamu Yang harusnya rutin aku terima setiap waktu Jadi bagaimana kalau bunga ini kamu terima dulu sebagai pesan permintaan maafku?  Kemudian kita mulai lagi langkah baru untuk menutup dengan bahagia bulan-bulan selanjutnya Tangerang, Juni 2023