Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2015

Sejumput Warna

Kanvas putih hidupku terbentang luas Menanti dijamah sejumput warna Perlahan kalian hinggap Tanpa permisi Mewarnai Hariku Dihapusnya hitam Ketika malang menjemput Digoresnya semburat orange biru Pertanda terbitnya sebentuk asa baru Kenangan kita curahkan hujan rindu Genangi daratan dengan nelangsa Semangat kian tandus Ingin segera Bertemu Waktu Entah kapan Izinkan kita bergandengan Warnai kanvas putih kembali Sajak ini teruntai untukmu, kawan -angelinaamm-

Jeritanku dalam Aksara

Sehelai kertas tergolek pasrah. Dinodai guratan kisah. Sebentuk renjana tak bersuara Tenggelam di dasar lautan aksara. Ketika isakan rindu tak sampai. Dan limit tabah telah terlampaui. Biarkan jemari mengukir syair. Ungkapan risau hati sang penyair. Lewat goresan pena kulukiskan. Elok rupamu dalam tulisan. Kutabur bibit asa dalam sebait puisi. Walau tiada lagi sosokmu di sisi. -angelinaamm-

Pencuri Hati

Terkesiap retina menangkap bayangmu. Dua garis netra di balik kaca. Berpayung lebatnya surai hitam. Dilengkapi sepasang busur merah muda. Terpesona akan ciptaanNya Hingga kata tiada sanggup membuka. Hanya debar jantung tak tahu malu. Merona wajah kala pandangan bertaut. Seperti siraman air es di kala kemarau. Mengejutkan namun menyejukan. Tuntaskan dahaga sekian lama. Hapuskan kerontangnya jiwa. Wahai pencuri hati. Lewat desiran bayu kutiupkan. Rindu membuncah dibungkus harap. Semoga waktu izinkan bersua kembali. -angelinaamm-

Lewat Aksara

Aku hanya mampu meraba ukiran rupamu lewat sebait aksara. Menorehkan lukisan rasa yang mendalam lewat goresan pena. Dan menumpahkan segala kerinduan pada secarik kertas. Kamu, ya kamu yang siang malam diam- diam menyusup ke pikiranku. Menebarkan aroma tubuhmu di setiap udara yang kuhirup. Menyenandungkan syair indah di runguku. Kamulah yang sejak hari itu mendiami hatiku. Mengisi tiap sudutnya dengan benih - benih rindu. Tanpa kamu tahu bahwa setiap hari  kuhujani benih itu dengan air mata dan kupupuk dengan asa yang berlabuh padamu. Dan kini,rasa itu merekah indah di dasar sanubari. Memukau setiap netra yang menatap. Kecuali sepasang netramu. Ya, karena sepasang netramu begitu terpaku terhadap bidadari di seberang lautan. Hingga ku di depan mata tak kau tengok. Kini larik - larik aksara dalam sehelai kertas telah bias. Butir bening tengah menenggelamkannya di lautan nestapa -angelinaamm-

Bangun Kesiangan

Tetiba cahaya yang sangat kuat merajam tubuhku. Mengulitiku habis – habisan hingga ke kelopak mata.Meluncurkan sinar yang kuat tepat di alam bawah sadarku. Aku pun terbangun. Ternyata sudah siang.

Di Mana Medeka?

Tujuh puluh tahun usia negeri Pencuri ubi masuk jeruji Koruptor kesana kemari Mana nurani?  Ironi Tujuh belas tahun mengendarai reformasi Harga sembako menanjak tinggi Problematika tak teratasi Adaptasi ekonomi? Basi Tujuh kepala negara pimpin bangsa Realisasi wacana jadi nyata Rakyatnya masih bertanya Di mana Merdeka? -angelinaamm-

Puing – puing Jago Langit

Bentang sayapmu membelah angkasa Raung menggema isyarat adikuasa Mengintip elok lukisan Penguasa Terkesiap tepat lewat lensa Detik itu kalian bercumbu Berasyik masyuk abaikan kubu Lantang jeritan pasrah menggebu Ajal tanpa ampun menyerbu Terenggut nyawa bersama senja Jago langit taburkan kamboja Puing lara kian membaja Nusantara turut bermuram durja -angelinaamm-

Rumah

Kutatap langit – langit yang siap sedia menaungi dari panas dan hujan kini semakin menipis tergerus waktu. Pilar – pilar kekar setia menyanggah tegapnya bangunan sederhana ini. Dinding bercat orange pun masih setia menyelimuti bangunan ini dari dunia luar. Keramik yang mulai hilang kilaunya seolah bertahan dipijak nara – nara penghuni bangunan sederhana ini. Sesekali terdengar suara membentak, berteriak, bahkan canda tawa pun menguar dari bangunan itu. Tempat tinggal yang sudah puluhan tahun itu menjadi saksi bisu segala peristiwa penting. Bertemunya dua sejoli, hingga lahirnya malaikat – malaikat kecil yang memberi warna pada rumah itu. Seiring waktu, kedua sejoli itu menua dan ketiga malaikat kecil mereka beranjak dewasa, rumah ini masih setia melindungi dari sentuhan jahat  dunia luar.  Adakah yang lebih mewah dari kesederhanaan yang berbalut rasa syukur? Apa yang lebih membahagiakan dari menapaki tahap – tahap hidup bersama orang terkasih? Bagaimana mungkin aku menuka...

Aksaraku Tergantung di balik Jeruji Atma

Aksaraku tergantung di balik jeruji atma. Tiada sangup menghempas ke lorong kehidupan. Disekakmat prajurit tirani. Aksaraku tergantung di balik jeruji atma. Bedil menyambut ucap selamat datang ku tiada gentar. Tak sudi menghamba pada seonggok penjajah. Aksaraku tergantung di balik jeruji atma. Kobaran semangat susupi rongga - rongga raga. Tiba waktunya kemerdekaan kurampas kembali. -angelinaamm-

Tanpa Judul (4)