Skip to main content

Gerimis di Kota Istimewa #Kolaborasi_Puisi

Senja datang untuk menyapa 
Di latar kota berbudaya 
Sedangkan gamelan mengiringi langkahku 
Berjalan menuju satu hati; dirimu .

Di setengah perjalanan 
Melewati langkah kaki sejuta wisatawan 
Tampak engkau duduk bersimpuh 
Menanti hadirku tanpa kata mengeluh

Memang senja ini begitu syahdu 
Kita bertemu dalam nyanyian gerimis merdu 
Mengukir kisahkisah cinta 
Untuk ditulis dalam sebuah kitab asmara

Stasiun Tugu jadi saksi bisu 
Ketika waktu menghantarkan kamu
Dalam balutan senyum bahagia 
Isyarat letupan cinta menggelora

Aku kamu bertukar rindu 
Dalam naungan mega syahdu 
Lama nian terpenjara jarak
Timbulkan asa yang bergejolak

Biarlah langit terisak dalam sepi
Mungkin dia hanya iri hati
Pada dua insan pemadu kasih
Di titik nol kota, leburkan segala selisih

Yogyakarta, 1 Desember 2015
Kolaborasi puisi antara Oktavianus Deddy Yoga S & Angelina M M 

Comments

Popular posts from this blog

Menuju Pagi

Menuju pagi pandangan kita saling berbincang, perihal renjana tersimpan di waktu panjang, juga tanya yang menggebu dalam dada, yang terus bertambah tanpa jeda. Ada ingin yang tak sempat terucap, bersama rindu yang lama mengendap, berpadu mengisi sudut-sudut jiwa, yang lagi-lagi runtuh dibabat kecewa. Bagaimana kupecahkan tanda tanya di balik sorot mata? sedang lidah sibuk menahan barisan kata, meredam debar yang semakin bising, bersama rasa ingin tahu yang tak juga menyingsing. Sudut kota, 2025

Tak Pernah Tepat Waktu

Kepada sang penggerak kala, izinkan aku memahami teka-teki rasa, perlahan menapaki dinding sanubari, melewati celah di antara dua anak manusia Bagaimana terjemahan "cinta", sedang aku terus mencari "kita", sibuk berlari dari pelukan dia, dan berhenti di dekapan kekasih lainnya, yang lagi-lagi dibawa lari semesta  Sanggupkah aku melawan waktu? sedang aku terus diam dalam rangkulan ragu  menanti tepat yang tak kunjung berlaku   Tangerang, 30 Maret 2025 terinspirasi dari film Cinta Tak Pernah Tepat Waktu Ost. Cinta Tak Pernah Tepat Waktu | Aina Abdul ft Fabio Asher

Ruang Kosong

Lewat tengah malam aku masih menerka-nerka, perihal perjalanan waktu yang mengantarku kepadamu, bagaimana suka duka di belakang, menerjemahkan seperti apa kita sekarang Ada sesal yang terlahir (lagi), dari tangan-tangan yang menggenggam hitam, juga pengampunan yang dilafalkan satu demi satu, membuka tabir masa lampau yang kusimpan rapat-rapat Bagaimana mungkin kaki ini terantuk kembali pada lubang yang sama, sedang di depan sana lagi-lagi bendera abu-abu yang kau kibarkan, seperti warna yang kau goreskan di tahun-tahun sebelumnya Mungkin sudah datang masanya, berbincang kepada diri, melapangkan dada menampung kecewa, meski hati kerap bertanya-tanya,  bagaimana membaca kata "cukup" di matamu? Bahkan jika seisi dunia kuberi, tak kan (pernah) cukup mengisi ruang kosong dalam hatimu Begitu juga maafmu, tak sanggup membalut luka yang (selalu) kau ukir Ruang Kosong, 23 Februari 2025