Senja ini cakrawala bermuram durja, tanpa singgahan rona jingga. Seolah ia bercermin pada kelamnya kalbu yang tersayat-sayat oleh lidahmu. Perihnya merambat ke sekujur ragaku. Aku nyaris lumpuh karena terlalu jauh kau jatuhkan ke jurang dusta. Hingga desiran angin membelai perlahan, mencoba mengajakku berdansa di atas hitamnya kisah kita yang tak putih lagi. Jemarimu mahir mengubah alfa dan omega hikayat kita, hingga tak lagi sejalan. Aku meratap dalam sepi. Kutanyakan pada rerintik yang berlomba mencumbu bumi. Namun apalah daya, tanyaku mengambang di udara. Pahit menyesaki lidah, merambat ke tenggorokan, dan aku tak mampu membuka kata.
.
Angin mendesir
Cakrawala melegam
Rerintik tumpah
.
Yogyakarta, 6 Desember 2015
.
Angin mendesir
Cakrawala melegam
Rerintik tumpah
.
Yogyakarta, 6 Desember 2015
Comments
Post a Comment