Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2015

Gulagula Demokrasi Membungkus Lumpur Tirani.

Kaiskais mimpi tertebar Renyah dengan senyum yang di lembar Putih selimuti sesumbar Kelak rasa kan kembali hambar Lidahnya manis Menari lewati tapal garis Perlahan kulumat romantis Tak kusangka tajam mengiris Topeng rapat tutupi wajah Isak tangis disulap menjadi tawa Janji orasi para punggawa Membelah sangsi mencipta luka Di panggung tanah syurga Nyawa tinggalkan raga Sisasisa di bawah tangga Menanti pelangi jingga Kilahnya merupa sandiwara Cipta menuai gulagula aksara Pahit nyata akhir sebuah lara Oleh janji berpanji manusia berdasi yang halalkan segala cara Aksaranya tak lagi mampu mendarat Terbelenggu tirani berkarat Demokarasi nyaris berkarat Dihajar tangantangan keparat Inikah simbolik dari arti demokrat Atau sesaji orangorang yang takut melarat Mengatas nama sumpah sandang aparat Tapi lenganya tak kasih merangkul rakyat Tinta Perak. 6 desember2015 Dua kolong nusantara Oleh ;  Angelina...

-Sajak Singkat-

Tanpa Judul (6)

Coretan Malam

Kinasih...  Alfa dan omega masih samar  Sebab larik-larik puisiku sembunyi dalam lipatan malam Judulnya terbenam di sudut pucat rembulan  Diksiku tumpah, terlarut bersama gemintang  Sedang titimangsanya berdenyut, dalam debar jantungmu  Yogyakarta, 29 Desember 2015

Akhir Tahun

Sang waktu melangkah maju Tinggalkan kisah di sudut bisu Warna-warni jejak terpaku Isyarat beragam tawa sedu Lihat! Dua belas bulan nyaris padam Di penghujung masehi temaram Dalam lipatan tiga ratus enam puluh lima Kepingan asa menjelma nyata Desember perlahan buram Tiga puluh satu penanda batas Tabir masa tak lagi kelam Penantian kian terbalas Seuntai doa menyelinap di sela jemari Harap cemas bergelayut di ujung hari Semoga kelak kudekap lagi RencanaMu nan tersusun rapi Yogyakarta, 20 Desember 2015

AKSARA SECANGKIR KOPI

Larik-larik melegam Perlahan tenggelam Dalam genangan kelam Syair turut buram Uap berlari Memutari reparasi Nikmat medekap Hangat basah pengecap Butir-butir terlarut Padankan segala kemelut Tawa sedu bertaut Sisakan ampas tersangkut Aksara merebas Menghamba akan bebas Langkahi garis-garis batas Makna kian retas Yogyakarta, 8 Desember 2015

DIHAJAR DUSTAMU #haibun

Senja ini cakrawala bermuram durja, tanpa singgahan rona jingga. Seolah ia bercermin pada kelamnya kalbu yang tersayat-sayat oleh lidahmu. Perihnya merambat ke sekujur ragaku. Aku nyaris lumpuh karena terlalu jauh kau jatuhkan ke jurang dusta. Hingga desiran angin membelai perlahan, mencoba mengajakku berdansa di atas hitamnya kisah kita yang tak putih lagi. Jemarimu mahir mengubah alfa dan omega hikayat kita, hingga tak lagi sejalan. Aku meratap dalam sepi. Kutanyakan pada rerintik yang berlomba mencumbu bumi. Namun apalah daya, tanyaku mengambang di udara. Pahit menyesaki lidah, merambat ke tenggorokan, dan aku tak mampu membuka kata. . Angin mendesir Cakrawala melegam Rerintik tumpah . Yogyakarta, 6 Desember 2015

Dalam RumahMu

Jiwaku memekik girang Kelamnya kian jarang Sebab dibelai manja FirmanMu nan meraja Hari bagiMu tuk rehat Usai bumi Kau pahat Syahdu kubermadah Tunduk; tanpa tengadah Kembali lutut tertekuk Lenyapkan belenggu busuk Mengadu tiada jemu Dalam naungan rumahMu Kapel St. Robertus Bellarminus Mrican Yogyakarta, 6 Desember 2015

Sepuh Rindu Mengabu #Kolaborasi_Puisi

Senja masih menyenandung rindu Merambati detik perlahan bagai si perdu Menyeringai angan dalam ingin temu beradu Merona hati membayang syahdu Sekelebat bayangmu membelai atma Gantungkan tanya di pucuk dilema Aku dan kamu masih tanda koma Hingga realita pecahkan enigma Rasa menggundah kesudah Elipsis menjadi dogma Titik rona meredup kesima Menjadi akhir sebuah tanya Akulah tahanan pencuri rindu Dalam kelamnya jeruji penantian Seiring putaran masa berlalu Lenyapkan risau tak bertuan Sepuh sudah rindu kirana Ragam pesona melerai warna Waktu mendetik sempurna Peniadaan mengarsir rona Legam gejolak kalbu Tawa menjelma sedu Hingga tahun keseribu Tenggelam dalam sendu Jakarta-Yogyakarta,  4 Desember 2015 Kolaborasi puisi antara Fandi Aksara Effendi & Angelina Maria M

Gerimis di Kota Istimewa #Kolaborasi_Puisi

Senja datang untuk menyapa  Di latar kota berbudaya  Sedangkan gamelan mengiringi langkahku  Berjalan menuju satu hati; dirimu . Di setengah perjalanan  Melewati langkah kaki sejuta wisatawan  Tampak engkau duduk bersimpuh  Menanti hadirku tanpa kata mengeluh Memang senja ini begitu syahdu  Kita bertemu dalam nyanyian gerimis merdu   Mengukir kisahkisah cinta  Untuk ditulis dalam sebuah kitab asmara Stasiun Tugu jadi saksi bisu  Ketika waktu menghantarkan kamu Dalam balutan senyum bahagia  Isyarat letupan cinta menggelora Aku kamu bertukar rindu   Dalam naungan mega syahdu  Lama nian terpenjara jarak Timbulkan asa yang bergejolak Biarlah langit terisak dalam sepi Mungkin dia hanya iri hati Pada dua insan pemadu kasih Di titik nol kota, leburkan segala selisih Yogyakarta, 1 Desember 2015 Kolaborasi puisi antara  Oktavianus Deddy Yoga S  &  Ang...