Skip to main content

Posts

Showing posts from July, 2015

Rindu (?)

Selimut hitam setia memeluk raga. Netra terpejam kala bayu mendesis lirih Dan rindu itu masih terpatri di sana Menggenggam serpihan jiwa yang teriris perih -angelinaamm-

Di Kolong Langit Merah Putih

Kepada Yang Terhormat Tuan Berdasi di Kastil Megah Tolonglah buka lorong pendengaran kalian Demi kepingan mimpi rakyat terjajah Sabang sampai Merauke bergandengan Sudilah menjaga aset budaya yang terabaikan Rangkul pengangguran terhempas ekonomi sukar Ikat kembali putusnya jalinan pendidikan Lanjutkan pembangunan nasional terlantar Berantas bibit korupsi hingga ke akar Rekatkan kembali retaknya persatuan Hukum mati penjaja narkoba si bandar Semangat nasionalisme terus kobarkan Di pundakmu kuletak harapan Penuh percaya walau langkah tertatih Menanti ikrarmu tergenapkan Di kolong langit merah putih -anglinaamm-

Pengagum Senja yang Seperti Senja

Bayu mendesir meniup anak - anak rambutmu, dan sosokmu terpatri di bibir pantai. Menanti sang fajar menyisih perlahan. Menikmati detik - detik temaramnya langit. Tidak sadarkah kamu? Kamu seperti semburat jingga di kala petang. Indahnya hanya sesaat, kemudian gelap, pekat, legam. Aku terus menunggu senja itu kembali, walaupun hanya sesaat dan beranjak dengan segera. -angelinaamm-

Tanpa Judul (3)

Mahluk itu berlompatan di ilalang hitam. Mencari celah celah ternyaman tuk sembunyi. Berharap tak tergapai tangan - tangan jahat manusia. Menanti hingga ladang hitam baru tiba, dan bermigrasi bersama keluarga tercinta. Sampai kapan kau pertahankan usaha ternakmu gadis manis? -angelinaamm-

Pergi

Kuterjang ladang penuh ilalang Meranggas dari heningnya malam Tak sudi kutatap semua di belakang Rangkaian cerita lama yang kelam -angelinaamm-

Jejak Tinta untuk Sang Kekasih

Penaku menari beserta lara yang membuncah Tak kuasa menggores kata menyerah Apalah daya jika semesta bertitah Bahwa dua insan harus terpisah Sekar asmara yang mulai merekah Tiada lagi sanggup mekar Dibasuh hujanpun tak bergairah Layu seketika restu enggan terlontar Untuk apa jemari bertaut Sedang dua kubu tak sudi berangkul Biarkan ini menjadi akhir kemelut Dari batin yang terus bergumul -angelinaamm-